Tipitaka Online

Bhikkhu Dhammaraja.

Kungfu Sengatan Listrik Purba (Kajian atas Chachakka Sutta)

Ditulis oleh Bhikkhu Dhammaraja di/pada November 23, 2009

Kungfu Sengatan Listrik Purba
Oleh: Bhikkhu Dhammaraja

A. Teori

Para Bhikkhu, Aku akan menerangkan Dhamma yang baik pada awalnya, baik pada pertengahan dan baik pada akhirnya, dengan arti dan ungkapan yang benar, dan Aku akan memberitahukan satu kungfu yang sangat sempurna dan murni, yang disebut Kungfu Sengatan Listrik Purba.

“Enam landasan di dalam diri seorang dapat dimengerti.
Enam landasan luar dapat dimengerti.
Enam kelompok kesadaran dapat dimengerti.
Enam kelompok kontak dapat dimengerti.
Enam kelompok perasaan dapat dimengerti.
Enam kelompok keinginan dapat dimengerti.

‘Enam landasan di dalam diri seseorang dapat dimengerti,’ demikian dikatakan. Lalu dengan dasar apa hal ini dikatakan? Enam landasan itu adalah mata, telinga, hidung, lidah, badan, pikiran. Maka berdasarkan hal-hal tersebut dapat dikatakan: ‘Enam landasan di dalam diri seseorang dapat dimengerti.’ Ini adalah enam yang pertama.

Enam landasan luar dapat dimengerti,’ demikian dikatakan. Lalu dengan dasar apa hal ini dikatakan? Enam landasan itu adalah bentuk, suara, bebauan, rasa, wujud, dhamma. Maka, berdasarkan hal-hal tersebut dapat dikatakan: ‘Enam landasan luar dapat dimengerti.’ Ini adalah enam yang kedua.

‘Enam kelompok kesadaran dapat dimengerti,’ demikian dikatakan. Lalu dengan dasar apa hal ini dikatakan? Tergantung pada penglihatan dan kesadaran akan bentuk-bentuk penglihatan timbul, tergantung pada pendengaran dan kesadaran akan suara-suara timbul, tergantung pada penciuman dan kesadaran akan bebauan timbul, tergantung pada pencerapan dan kesadaran akan rasa-rasa timbul, tergantung pada tubuh dan kesadaran akan wujud-wujud tubuh timbul, tergantung pada pikiran dan kesadaran akan dhamma-dhamma pikiran timbul. Maka dengan dasar-dasar tersebut dapat dikatakan: ‘Enam kelompok kesadaran dapat dimengerti.’ Ini adalah enam yang ketiga.

‘Enam kelompok kontak dapat dimengerti,’ demikian dikatakan. Lalu dengan dasar apa hal ini dikatakan? Tergantung pada penglihatan dan kesadaran akan bentuk-bentuk penglihatan muncul, kesamaan dari ketiganya adalah kontak; tergantung pada pendengaran dan kesadaran akan suara-suara timbul, kesamaan dari ketiganya adalah kontak; tergantung pada penciuman dan kesadaran akan bebauan timbul, kesamaan dari ketiganya adalah kontak; tergantung pada pencerapan dan kesadaran akan rasa-rasa timbul, kesamaan dari ketiganya adalah kontak; tergantung pada badan dan kesadaran akan wujud-wujud tubuh timbul, kesamaan dari ketiganya adalah kontak; tergantung pada pikiran dan kesadaran akan dhamma-dhamma pikiran timbul, kesamaan dari ketiganya adalah kontak. Maka dengan dasar tersebut dapat dikatakan: ‘Enam kelompok kontak dapat dimengerti.’ Ini adalah enam yang keempat.

Enam kelompok perasaan dapat dimengerti,’ demikian dikatakan. Lalu dengan dasar apa hal ini dikatakan? Tergantung pada penglihatan dan kesadaran akan bentuk-bentuk penglihatan timbul, kesamaan dari ketiganya adalah kontak, dengan kontak seperti keadaan maka ada perasaan; tergantung pada pendengaran dan kesadaran akan suara-suara timbul, kesamaan dari ketiganya adalah kontak; dengan kontak seperti keadaan maka ada perasaan; tergantung pada penciuman dan kesadaran akan bebauan timbul, kesamaan dari ketiganya adalah kontak, dengan kontak seperti keadaan maka ada perasaan; tergantung pada pencerapan dan kesadaran akan rasa-rasa timbul, kesamaan dari ketiganya adalah kontak, dengan kontak seperti keadaan maka ada perasaan; tergantung pada tubuh dan kesadaran akan wujud-wujud badan timbul, kesamaan dari ketiganya adalah kontak, dengan kontak seperti keadaan maka ada perasaan. Maka dengan dasar-dasar tersebut dapat dikatakan: ‘Enam kelompok perasaan dapat dimengerti.’ Ini adalah enam yang kelima.

‘Enam kelompok perasaan dapat dimengerti,’ demikian dikatakan. Lalu dengan dasar apa hal ini dikatakan? Tergantung pada penglihatan dan kesadaran akan bentuk-bentuk penglihatan timbul, kesamaan dari ketiganya adalah kontak, dengan kontak seperti keadaan maka ada perasaan, dengan perasaan seperti keadaan maka ada keinginan; tergantung pada pendengaran dan kesadaran akan suara-suara timbul, kesamaan dari ketiganya adalah kontak; dengan kontak seperti keadaan maka ada perasaan, dengan perasaan seperti keadaan maka ada keinginan; tergantung pada penciuman dan kesadaran akan bebauan timbul, kesamaan dari ketiganya adalah kontak, dengan kontak seperti keadaan maka ada perasaan, dengan perasaan seperti keadaan maka ada keinginan; tergantung pada pencerapan dan kesadaran akan rasa-rasa timbul, kesamaan dari ketiganya adalah kontak, dengan kontak seperti keadaan maka ada perasaan, dengan perasaan seperti keadaan maka ada keinginan; tergantung pada tubuh dan kesadaran akan wujud-wujud tubuh timbul, kesamaan dari ketiganya adalah kontak, dengan kontak seperti keadaan maka ada perasaan, dengan perasaan seperti keadaan maka ada keinginan; tergantung pada pikiran dan kesadaran akan dhamma-dhamma pikiran timbul, kesamaan dari ketiganya adalah kontak, dengan kontak seperti keadaan maka ada perasaan, dengan perasaan seperti keadaan maka ada keinginan. Maka dengan dasar-dasar tersebut dapat dikatakan: ‘Enam kelompok kesadaran dapat dimengerti.’ Ini adalah enam yang keenam.

B. Konsep

‘Jika seseorang berkata bahwa penglihatan adalah aku sendiri, hal itu tidak dapat dipertahankan. Naik dan turunnya penglihatan adalah jelas2). Sekarang karena naik dan turunnya jelas, maka dia mengikuti dirinya sendiri naik dan turun. Oleh karena itu, jika seseorang berkata bahwa penglihatan adalah aku sendiri, hal itu tidak dapat dipertahankan.

(ii). ‘Jika seseorang berkata bahwa bentuk-bentuk adalah aku sendiri, hal itu tidak dapat dipertahankan …’

(iii). ‘Jika seseorang berkata bahwa kesadaran penglihatan adalah aku sendiri, hal itu tidak dapat dipertahankan … ‘

(iv). ‘Jika seseorang berkata bahwa kontak penglihatan adalah aku sendiri, hal itu tidak dapat dipertahankan … ‘

(v). ‘Jika seseorang berkata bahwa perasaan adalah aku sendiri, hal itu tidak dapat dipertahankan …’

(vi). ‘Jika seseorang berkata bahwa keinginan adalah aku sendiri, hal itu tidak dapat dipertahankan …’

11.2. (i). ‘Jika seseorang berkata bahwa pendengaran adalah aku sendiri, hal itu tidak dapat dipertahankan …’

(ii). ‘… suara-suara adalah aku sendiri …

(iii). ‘… kesadaran akan suara adalah aku sendiri …

(iv). ‘… kontak pendengaran adalah aku sendiri …

(v). ‘… perasaan adalah aku sendiri …

(vi). ‘… keinginan adalah aku sendiri … tidak dapat dipertahankan.

12.3. (i). ‘Jika seseorang berkata bahwa penciuman adalah aku sendiri, hal itu tidak dapat dipertahankan …

(ii). ‘… bebauan adalah aku sendiri …

(iii). ‘… kesadaran penciuman adalah aku sendiri …

(iv). ‘… kontak penciuman adalah aku sendiri …

(v). ‘… perasaan adalah aku sendiri …

(vi). ‘… keinginan adalah aku sendiri … tidak dapat dipertahankan.

13.4. (i). ‘Jika seseorang berkata bahwa pencerapan adalah aku sendiri, hal itu tidak dapat dipertahankan …

(ii). ‘… rasa-rasa adalah aku sendiri …

(iii). ‘… kesadaran akan pencerapan adalah aku sendiri …

(iv). ‘… kontak pencerapan adalah aku sendiri …

(v). ‘… perasaan adalah aku sendiri …

(vi). ‘… keinginan adalah aku sendiri … tidak dapat dipertahankan.

14.5. (i) ‘Jika seseorang berkata bahwa badan adalah aku sendiri, … hal itu tidak dapat dipertahankan …

(ii). ‘… bentuk-bentuk adalah aku sendiri …

(iii). ‘… kesadaran akan tubuh adalah aku sendiri …

(iv). ‘… kontak badan adalah aku sendiri …

(v). ‘… perasaan adalah aku sendiri …

(vi). ‘… keinginan adalah aku sendiri … tidak dapat dipertahankan.

15.6. (i). ‘Jika seseorang berkata bahwa pikiran adalah aku sendiri, hal itu tidak dapat dipertahankan. Sekarang sejak naik dan turunnya adalah suatu hal yang jelas mengikuti naik dan turunnya itu sendiri. Oleh karena itu, jika seseorang berkata bahwa pikiran adalah aku sendiri, itu tidak dapat dipertahankan.’

(ii). ‘… dhamma-dhamma adalah aku sendiri …

(iii). ‘… kesadaran akan pikiran adalah aku sendiri …

(iv). ‘… kontak pikiran adalah aku sendiri …

(v). ‘… perasaan adalah aku sendiri …

(vi). ‘… keinginan adalah aku sendiri … tidak dapat dipertahankan.

C. Kungfu Sengatan Listrik Purba

Sekarang para bhikkhu, jalan yang menuntun kemunculan dari Sengatan Listrik Purba adalah:

17.1. (i-vi). Seseorang melihat mata sebagai ‘Ini adalah magnet.’
Dia melihat bentuk-bentuk sebagai ‘Ini adalah magnet.’
Dia melihat kesadaran akan penglihatan sebagai ‘Ini adalah magnet.’
Dia melihat kontak mata sebagai ‘Ini adalah magnet.’
Dia memandang perasaan sebagai ‘Ini adalah magnet.’
Dia melihat keinginan sebagai ‘Ini adalah magnet.’

18.2. (i-vi). Seseorang memandang telinga sebagai ‘Ini adalah magnet …

19.3. (i-vi). Seseorang memandang hidung sebagai ‘Ini adalah magnet …

20.4. (i-vi). Seseorang memandang lidah sebagai ‘Ini adalah magnet …

21.5. (i-vi). Seseorang memandang tubuh sebagai ‘Ini adalah magnet …

22.6. (i-vi). Seseorang memandang pikiran sebagai ‘Ini adalah magnet.’
Dia memandang dhamma-dhamma sebagai ‘Ini adalah milikku, Ini adalah magnet.’
Dia memandang kesadaran akan pikiran sebagai ‘Ini adalah magnet.’
Dia memandang kontak pikiran sebagai ‘Ini adalah magnet.’
Dia memandang perasaan sebagai ‘Ini adalah magnet.’
Dia memandang keinginan sebagai ‘Ini adalah magnet.’

D. Jurus-Jurus Sengatan Listrik Purba

Sekarang para bhikkhu, jalan yang menuntun ke jurus-jurus Sengatan Listrik Purba adalah sebagai berikut:

24.1. (i-vi). Seseorang memandang mata sebagai ‘Ini adalah listrik.’
Dia memandang bentuk-bentuk sebagai ‘Ini adalah listrik.’
Dia memandang kesadaran akan penglihatan sebagai ‘Ini adalah listrik.’
Dia memandang kontak penglihatan sebagai ‘Ini adalah listrik.’
Dia memandang perasaan sebagai ‘Ini bukan milikku, Ini adalah listrik.’
Dia memandang keinginan sebagai ‘Ini bukan milikku, Ini adalah listrik.’

25.2. (i-vi). Seseorang memandang kuping sebagai ‘Ini adalah listrik …’

26.3. (i-vi). Seseorang memandang hidung sebagai ‘Ini adalah listrik …’

27.4. (i-vi). Seseorang memandang lidah sebagai ‘Ini adalah listrik …’

28.5. (i-vi). Seseorang memandang tubuh sebagai ‘Ini adalah listrik …’

29.6. (i-vi). Seseorang memandang pikiran sebagai ‘Ini adalah listrik …’

E. Pertarungan dengan Kungfu Sengatan Listrik Purba

1. (i-vi). Para bhikkhu, tergantung pada penglihatan dan kesadaran akan bentuk-bentuk penglihatan timbul, kesamaan dari ketiganya adalah kontak, dengan kontak seperti keadaan lalu timbul apa yang dirasakan seperti menyenangkan atau menyakitkan atau tidak menyakitkan maupun tidak menyenangkan. Ketika seseorang dalam perasaan senang, dia tidak menikmati atau menegaskan atau menerimanya, kemudian tidak ada kecenderungan pokok yang berkeinginan untuk mendasarinya. Ketika seseorang dalam perasaan sedih, dia tidak merasa sedih, berduka cita dan meratap, dia tidak memukuli dadanya, meneteskan air mata dan menjadi bingung, lalu tidak ada kecenderungan pokok yang bertahan mendasarinya. Meskipun seseorang tidak dalam perasaan sedih maupun senang dia mengerti apa yang sebenarnya, asal dan akhir dari perasaan tersebut, atau kepuasan, bahaya dan pelarian (dalam setiap hal), lalu tidak ada kecenderungan pokok yang mengabaikan dasarnya. Kemudian sesungguhnya, para bhikkhu, bahwa dia akan di sini dan mengakhiri penderitaan dengan menghentikan kecenderungan pokok untuk perasaan menyenangkan, dengan menghapus kecenderungan pokok untuk melawan perasaan menyakitkan, dan dengan menghapus kecenderungan pokok untuk mengabaikan perasaan yang tidak menyakitkan maupun yang tidak menyenangkan, menghentikan kebodohan dan mempunyai pengetahuan benar, hal itu mungkin.

37.2. (i-vi). Tergantung pada telinga dan suara-suara …

38.3. (i-vi). Tergantung pada hidung dan bebauan …

39.4. (i-vi). Tergantung pada lidah dan rasa-rasa …

40.5. (i-vi). Tergantung pada badan dan wujud-wujud …

41.6. (i-vi). Tergantung pada pikiran dan dhamma-dhamma … Kemudian para bhikkhu, bahwa dia harus mengakhiri penderitaan, di sini dan sekarang dengan menghentikan kecenderungan pokok yang menginginkan perasaan yang menyenangkan, dengan menghapus kecenderungan pokok melawan perasaan menyakitkan, dan dengan menghapus kecenderungan pokok untuk mengabaikan baik perasaan yang menyakitkan maupun yang menyenangkan, menghentikan ketakpedulian dan mempunyai pengetahuan benar hal itu adalah mungkin.
(jika ia menerima, ia terkena jutaan volt Listrik Purba)

F. Penutup Kitab

Oleh karena itu, lalu seorang siswa mulia terpelajar yang baik menjadi bebas terhadap penglihatan, menjadi bebas terhadap bentuk-bentuk, menjadi bebas terhadap kesadaran akan penglihatan, menjadi bebas terhadap kontak penglihatan, menjadi bebas terhadap perasaan, menjadi bebas terhadap keinginan.
Dia menjadi bebas terhadap telinga …
Dia menjadi bebas terhadap hidung …
Dia menjadi bebas terhadap lidah …
Dia menjadi bebas terhadap tubuh …
Dia menjadi bebas terhadap pikiran, dia menjadi bebas terhadap dhamma-dhamma, menjadi bebas terhadap kesadaran akan pikiran, menjadi bebas terhadap kontak pikiran, menjadi bebas terhadap perasaan, menjadi bebas terhadap keinginan.

Menjadi bebas, (keinginannya) lenyap; dengan lenyapnya (keinginan) dia terbebas; ketika (pikirannya) terbebas, datanglah pengetahuan ‘Dia terbebas.’ Dia mengerti: ‘Kelahiran adalah melelahkan, kehidupan brahmana telah ditempuh, apa yang harus dikerjakan sudah dikerjakan, Aku sudah menguasai Sengatan Listrik Purba.’ “

Ditulis dalam Uncategorized | 14 Komentar »

News

Ditulis oleh Bhikkhu Dhammaraja di/pada November 16, 2009

 

Next:
1. “Ilmu Sengatan Listrik Purba (Kajian Atas Chachakka Sutta)”
3. “Tapak Buddha lv 7: Pedang Da Mo (Kajian Atas Mahahatthipadopama Sutta)”

Tunggu tanggal mainnya.

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Orang-Orang Yang Takut Mati (Kajian Atas Abhaya Sutta)

Ditulis oleh Bhikkhu Dhammaraja di/pada November 16, 2009

Brahmana Janussoni berkata, “Aku sampai pada satu kesimpulan: Tak ada orang yang tak takut mati”.

Shakhyamunibuddha, “Sebenarnya ada yang takut, tapi ada pula yang tak.”

Ada 4 orang yang takut mati:
1. Ada orang yang belum menyelesaikan penghilangan nafsu, keinginan, hobi, dan kecanduannya akan seks, lalu datang penyakit serius padanya. Dalam susahnya, ia berpikir, “wah, aku tak bisa ngeseks lagi”. Ia meratapi kehilangannya.
2. Ada orang yang belum menyelesaikan penghilangan nafsu, keinginan, hobi, dan kecanduannya pada kebagusan fisiknya, lalu datang penyakit serius padanya. Dalam susahnya, ia berpikir, “wah, aku tak keren lagi”. Ia meratapi kehilangannya.
3. Ada orang yang belum terlatih melakukan hal-hal baik, benar, dan berguna. Tak pernah melindungi yang lemah, malah terus berbuat salah, jahat, dan kejam. lalu datang penyakit serius padanya. Dalam susahnya, ia berpikir, “wah, aku belum melakukan hal-hal baik, benar, dan berguna. Tak pernah melindungi yang lemah, malah terus berbuat salah, jahat, dan kejam. Aku pasti masuk neraka.” Ia meratapi kehilangannya.
4. Ada orang yang belum masuk agama yang benar (agama buddhi) lalu datang penyakit serius padanya. Dalam susahnya, ia berpikir, “aku masih belum masuk agama benar sudah mati”.  Ia meratapi kehilangannya.

Ada 4 orang yang tak takut mati:
1. Ada orang yang sudah menyelesaikan penghilangan nafsu, keinginan, hobi, dan kecanduannya akan seks, lalu datang penyakit serius padanya. Dalam sakitnya, ia berpikir, “aku sudah bebas dari seks”. Ia mati dengan tenang.
2. Ada orang yang sudah menyelesaikan penghilangan nafsu, keinginan, hobi, dan kecanduannya pada kebagusan fisiknya, lalu datang penyakit serius padanya. Dalam sakitnya, ia berpikir, “sudah saatnya aku mati”. Ia mati dengan tenang.
3. Ada orang yang sudah terlatih melakukan hal-hal baik, benar, dan berguna. Juga melindungi yang lemah, dan cuma berbuat yang benar, baik, mulia. lalu datang penyakit serius padanya. Dalam sakitnya, ia berpikir, “aku sudah melakukan hal-hal baik, benar, dan berguna. Juga melindungi yang lemah, dan cuma berbuat yang benar, baik, mulia. Aku akan ke surga.” Ia mati dengan tenang.
4. Ada orang yang sudah masuk agama buddhi lalu datang penyakit serius padanya. Dalam sakitnya, ia berpikir, “aku sudah berada di agama yang benar”.  Ia mati dengan tenang.

Brahma Janussoni berkata, “menakjubkan, Tuan Gotama! Menakjubkan. Tuan, melalui banyak alasan yang masuk akal, sudah membuat Dhamma menjadi jelas. Mulai sekarang aku berlindung pada Buddha, Dhamma, Sangha.”

death

Ditulis dalam Anguttara Nikaya | 12 Komentar »

Memperhatikan Segala Sesuatu Seperti Apa Adanya (Kajian Atas Mulapariyaya Sutta)

Ditulis oleh Bhikkhu Dhammaraja di/pada November 16, 2009

F-22

 

Shakhyamunibuddha menjelaskan seharusnya seseorang mempersepsikan berbagai obyek persepsi sebagai obyek persepsi, baik yang konkrit maupun yang abstrak (konsep):
- air (aapo) sebagai air
- api (tejo) sebagai api
- angin (vaayo) sebagai angin
- makhluk (bhuta) sebagai makhluk
- dewa (deva) sebagai dewa
- alien (pajapati) sebagai alien
- brahma (brahma) sebagai brahma
- dewa yang bercahaya (aabhassara) sebagai… dst
- dewa yang cemerlang (subhaki.n.na)
- dewa yang penuh berkah (vehapphala)
- makhluk agung (abhibhu)
- dimensi ruang tanpa-batas (aakaasaana~ncaayatana)
- dimensi kesadaran tanpa-batas (vi~n~naa.na~ncaayatana)
- dimensi kekosongan (aaki~nca~n~naayatana)
- dimensi bukan-pencerapan-bukan-pula-non-pencerapan (nevasa~n~naanaasa~n~naayatana)
- segala yang terlihat (di.t.tha.m)
- segala yang terdengar (suta.m)
- segala yang tercerap [dg ketiga indra lainnya] (muta.m)
- segala yang dikenali (vi~n~naata.m)
- keesaan (ekata.m)
- keanekaan (naanata.m)
- segala sesuatu (sabba.m)
- nibbana (nibbaana.m)

Dengan demikian seseorang bisa langsung ke sasaran saat menjawab persoalan-persoalan kehidupan, tak mempersepsikannya menurut obyek perasaan.
Misalnya: gay harus dipandang sebagai gay. tak dipandang sebagai:
- banyak gay di sekitar kita.
- mereka sering dicemooh.
- aku harus membuat artikel berjudul “gay juga manusia.”

Ada 3 tingkat pikiran saat mengkonsepsi persepsi:
1. Pikiran seorang assutava puthujana (orang awam yang belum beragama buddha).
2. Pikiran seorang sekha/murid yang masih belajar (para bhikkhu tingkat sotapanna-anagami).
3. Pikiran seorang asekha/murid yang sudah tamat belajar (arahat/buddha)

Seorang ASSUtava puthujana akan menulis “gay juga manusia”
Seorang sekha akan menulis “penyebab gay secara dna dan kamma”
Seorang Asekha akan menulis “gay dan buddhism”

Hahaha… Hahaha.. Hahaha…

Ditulis dalam Majjhima Nikaya | 7 Komentar »

38 Kunci Sukses (Kajian Atas Mahamangala Sutta) – Part 2

Ditulis oleh Bhikkhu Dhammaraja di/pada Agustus 22, 2009

arahats
 
 

20. Menghindari minuman keras (Majjapana Ca Sannamo)
Meski ada sedikit manfaat alkohol seperti kegunaannya untuk membunuh kuman/disinfektan, antidot untuk keracunan metanol, atau melegakan demam panas, tapi tak dipungkiri keburukan dari minum alkohol jauh melebihi kebaikannya. Banyak penelitian yang mengatakan kalau pengonsumsi alkohol dalam jumlah aman sekalipun, akan menurunkan efisiensi kerja. Dr. Irwin H. Neff, kepala rumah sakit ketergantungan alkohol di Norfolk, Massachussets menyatakan bahwa orang-orang yang mengonsumsi alkohol dalam jumlah aman cenderung lebih mudah terserang penyakit organ tubuh daripada orang yang sering mabuk. Selain itu, secara umum kepekaan saraf dan otot setiap individu akan mengalami penurunan, daya pandang dan koordinasi otot-otot motorik mata dan lengan juga akan menurun.
Ramuan utama minuman beralkohol ialah etanol. Etanol ialah sejenis bahan kimia yang berupaya menekan aktivitas otak, justru mengubah kewibawaan akal fikiran. Penggunaan alkohol secara untuk masa yang lama dapat menyebabkan kesan penagihan dari segi fisik dan mental.
Setelah diminum, alkohol mungkin diserap ke dalam darah melalui perut. Meski begitu, jalan utama alcohol masuk ke dalam darah yaitu melalui usus kecil, kemudian dibawa ke jantung yang kemudiannya menyebarkan darah beralkohol tadi ke seluruh tubuh. Seperti yang dinyatakan, akibat utama alkohol ialah di otak. Di sini, alkohol menyebabkan seseorang mengalami krisis diri dan juga bisa berdampak dari segi belajar. Selain dari akibat terhadap otak, alkohol berdampak pada sistem dan organ tubuh. Contohnya, dampak terhadap sistem peredaran darah menyebabkan darah lebih banyak dialirkan ke kulit, sehingga menyebabkan kulit peminum menjadi kemerah-merahan. detak jantung juga bertambah cepat dan kuat seperti sedang melakukan olahraga. Alkohol juga menyebabkab gastritis. Peminum alkohol biasanya sering buang air kecil karena etanol dpt menggagu hormone penahan kencing.
Bahaya alkohol juga sangat kelihatan terhadap peminum alkohol kronik (alcoholic). Penggunaan alkohol secara berpanjangan dapat mengakibatkan komplikasi fisik, pikiran, dan sosial. Selain daripada ulser perut, alkohol juga dapat menyebabkan sirosis hati. Peminum alkohol juga mungkin mengalami anemia, hipoglisemia (kekurangan gula di dalam darah, dan kekurangan vitamin). Otot-otot, rangka, dan jantung juga mengalami degenerasi dalam jangka masa panjang. Kerusakan saraf dapat menyebabkan berbagai jenis penyakit seperti sindrom Wernicke-Korsakoff dan kerusakan sel-sel otak.
Selain merupakan salah satu kunci sukses agar pikiran bisa fokus, tak minum alkohol juga termasuk sila kelima buddhist.

21. Tekun melaksanakan Dhamma (Appamado Ca Dhammesu)
Orang yang tak tekun, hasilnya akan setengah jadi. Ketekunan cuma bisa didapat dari Agama Buddha, yaitu melalui latihan Vipassana atas bidang yang kita geluti.
3 tahap munculnya ketekunan:
1. Karena rajin melakukan latihan itu, anda punya Sati/perhatian penuh/kewaspadaan terhadap segala sesuatu di sekeliling anda.
2. Karena punya sati, ia menjadi tertarik untuk menyelidiki fenomena-fenomena alam (diri pun alam juga). ini disebut Vicayo/punya kemampuan investigasi.
3. Karena suka bervicayo, muncul Viriya/energy Dhamma.
Seorang anak non-buddhist saat mengerjakan pr sekolahnya, mula-mula melakukan pengamatan terpusat atas buku sekolahnya. Ini disebut tahap Sati.
Saat ia tertarik utak-atik soal, ini disebut tahap Vicayo.
Terus-menerus begitu, ia membangun struktur pikiran tertentu (Viriya), dimana struktur pikiran ini membangkitkan ilham untuk menjawab pr sekolahnya. Inilah yang disebut Ketekunan.
Tapi jika seorang anak buddhist yang melakukannya, ia tak berhenti pada ketekunan, melainkan terus mengembangkan pikirannya hingga berlanjut ke tahap Piti/gairah hidup.
Orang yang berhenti pada titik ketekunan, dan sepanjang hidupnya tekun, berarti ia belum menemukan apa yang ia cari. Karena ia terus-menerus tekun. “Bahagia itu sekarang” – Ratu Adil Satria Pinandhita Sinisihan Wahyu.
Inilah bukti bahwa memang betul ada arahat termuda di jaman Sang Buddha yang umurnya baru 7 tahun.
Haha kasihan anak non-buddhist. Haha.

22. Penghormatan (Garavo Ca)
Penghormatan adalah bagian dari kebaikan, kebijakan, dan kebenaran sekaligus. Penghormatan adalah bagian dari satu masyarakat yang agamis.
Penghormatan hendaknya meliputi seluruh makhluk, yang besarnya sesuai besar penghormatan yang pantas kita berikan. Kita harus menghormati hewan piaraan kita. Memberi ketenangan, keteduhan, dan cinta__semua ini penghormatan. Kita harus menghormati guru-guru kita dengan menyimak baik-baik jika kita sedang belajar padanya. Kita menghormatinya dengan mencoba mengerti apa yang hendak ia sampaikan. Kita harus menghormati istri kita dengan membuatnya menguik seperti babi. Kita harus menghormati anak-anak dengan melayani perkembangan mereka dan mengikuti akar tehnologi pikiran mereka sendiri, bukan akar yang yang kita tanamkan. Tentusaja ini tak bisa diberlakukan oleh para pemeluk agama non-buddhist/hindu dikarenakan mereka tak percaya adanya kelahiran kembali. Jadi, prinsip mereka adalah, “hidup cuma sekali. jadi orang atau tak samasekali.” Proses pertumbuhan tak begitu dipentingkan di sini.
Penghormatan juga jangan berhenti pada mahkluk hidup saja, tapi juga pada benda hidup dan benda mati. Setelah tercerahkan, Buddha menghormat pohon boddhi dengan memandangnya tanpa berkedip selama tujuh jam. Jika Anda membeli barang-barang, semua barang itu harus dihormati dengan cara menaruh di tempat yang layak dan merawat sebisa mungkin.
Hasil menghormati orang, akan terkenal di kehidupan mendatang.
Hasil menghormati hewan, akan punya kebijakan Tao.
Hasil menghormati anak-anak, akan awetmuda.
Hasil menghormati istri, akan mudah dapat jodoh di kehidupan mendatang.
Hasil menghormati benda-benda hidup, seperti tumbuhan, akan kuat.
Hasil menghormati benda-benda mati akan kuat dalam bertahan hidup.
Sudahlah, gak usah banyak omong. Saya tetap yang paling pintar.

23. Tak tinggi hati (Nivato Ca)
Kesombongan menahan potensi seseorang untuk berkembang. Pikiran yang netral membuat kita tetap dapat memandang segala sesuatu seperti apa adanya/meneruskan Vipassana kita.
Tak tinggi hati bukan berarti rendah hati. Tak sombong bukan berarti harus rendah hati. Buddha tak pernah mengajarkan orang untuk rendah hati, kecuali sekedar kesalahan penafsiran. “Tak mengindentifikasi diri dengan rendah hati” – Mulapariyaya Sutta.
Berhati-hatilah terhadap sekelompok ‘bhikku’ yang tak punya ayat Tipitaka untuk mendukung doktrinasi mereka, lalu akhirnya cuma mampu berkata, “menurut literatur buddhist…” yang ujung-ujungnya ternyata cuma diambil dari sutta Mahayana, ataupun kisah yang gak jelas. Kalau mau mengajar itu harus jelas, ayatnya mana.

24. Merasa puas (Santutthi Ca)
Cuma satu cara agar bisa merasa puas, dan lagi-lagi, cara itu cuma ada di Agama Buddha. Yaitu dengan rutin bervipassana hingga mencapai tahap kosong. Di tahap kosong, Anda tak tinggal pada semua moment yang ada. Moment suka dan duka. Jika Anda keserempet pisau lalu Anda merasa kesakitan, berarti Anda masih belum di tahap kosong. Masih belum merasa puas. Seorang Buddha setiap mau ditusuk ia selalu bisa menghindar sendiri, sebagai bagian dari konsentrasinya akan pelepasan. Karena itu Buddha menjauh dengan sendirinya saat hendak ditusuk oleh Angulimala. Beliau tak menggerakkan tubuhnya sama sekali, melainkan bergerak dengan sendirinya. Inilah yang disebut Jurus Sakti Langkah Ajaib 7 Bintang, yang berguna untuk menghindar dengan sendirinya.
Selain mendapatkan jurus itu, latihan merasa puas ini juga menghasilkan Ilmu Rawarontek, yang berguna untuk kebal dan regenerasi sel.
Jika ada orang datang pada Anda dan berkata, “bahagia itu kan sekarang”, maka tusuklah ia dengan pisau. Jika ia kesakitan berarti ia cuma omongkosong atau sok spiritual. Orang yang benar-benar sudah bahagia, tak akan sakit meski dipukuli.

25. Berterima kasih (Katannuta)
Maksud Buddha bukanlah mengucap “terima kasih”. Buddha tak pernah mengajar untuk berkata, “terima kasih”, “maaf”, “selamat pagi”, kecuali untuk kepentingan pengajaran.
Kata terima kasih diganti dengan membalas jasa secukupnya atau dengan membiarkan lawan bicara kesal karena kita tak mengucap terima kasih.
Kata maaf gak usah diganti tapi biarkan korban kelakuan kita tak menuntut maaf sambil kita menganti kesalahan kita dengan perbuatan baik padanya.
Kata selamat pagi gak usah diganti tapi sekedar gak usah diucap karena jaman sekarang cuma jadi basa-basi saja di seluruh negara. Tapi Anda boleh menjawab “pagi” jika diajak basa-basi begitu.

26. Mendengarkan Dhamma pada saat yang sesuai (Kalena Dhammasavanam)
Dalam kalimat “Kālena Dhammasavana” (mendengarkan Dhamma pada saat yang sesuai), penekanannya pada “mendengarkan”. Ini dikarenakan pada jaman Sang Buddha, sebagian besar orang belajar dengan cara mendengar.
Jangan mendengarkan Dhamma jika kamma sebagai buddhist belum matang.
Jangan mendengarkan Dhamma dengan semangat, “saya tahu agama ini agama itu saya spiritualist saya sangat hebat”.
Tahu itu levelnya jauh di bawah sadar. Tahu bahwa buddhism itu ada bhikku-bhikkunya yang pakai jubah bukanlah luarbiasa, kecuali Anda sudah sadar kenapa Anda sudah saatnya jadi bhikku. Tahu bahwa buddhism itu ada latihan Vipassana bukanlah luarbiasa, kecuali Anda sudah mereguk hasil Vipassana. Bisa bicara, “kalo di islam kan namanya manunggaling kawulo gusti, nah kalo di buddhist itu namanya Jhana 4. Sama saja” bukanlah luar biasa, kecuali Anda berhasil tak bingung saat mengerjakan ritual Islam dan buddha sekaligus.
Orang yang belajar tapi tak mengamalkan sama seperti orang yang kerjanya menghitung ternak orang lain” – Dhammapada.
Pokoknya jangan mendengar Dhamma sebelum ada transformasi kesadaran dari dalam yang menimbulkan semangat seorang buddhist.

27. Sabar (Khanti Ca)
Sabar adalah tapa paling tinggi” – Buddha, merespon para brahmana yang cuma bertapa untuk mencari kesaktian.
Sebenarnya Buddha tak perlu berkata begitu, tapi karena berhadapan dengan doktrin hinduism, jadi ucapannya selalu beradu dengan Agama Hindu.
Sama seperti Ratu Adil Satria Pinandhita yang berhadapan dengan doktrin Islam, jadi sering bicara soal sunat, kurban, shalat, dsb.
Sabar adalah satu dari 10 Kesempurnaan (Dasa Paramita) yang dimiliki seorang bodhisatta.
Tapi pengertian sabar di agama Buddha tak sama dengan sabar di Islam yang sebenarnya mau marah tapi ditahan-tahan karena ingat Islam. Sabar di Buddha adalah menahan agar tak marah yang disertai pengertian bahwa semua kesialan adalah akibat kamma buruk sendiri. Dengan begitu, buddhist itu saat lahir lagi tak marahan lagi, sedang muslim yang lahir lagi itu akan jadi lebih pemarah dari sebelumnya, soalnya orang yang percaya hidup cuma sekali pasti banyak penyakit di bawahsadarnya.
Bawahsadar muslim itu saat mau mati: “sial, belum sempat aku marah”.
Bawahsadar buddhist itu saat mau mati: “latihanku sudah berhasil”.

28. Tak tinggi hati jika diingatkan (Sovacassata)
Kisah Arahat Sāriputta adalah contoh mengenai sifat netral. Satu saat, Sang Arahat yang sedang berjalan, bagian dari lipatan jubahnya menyentuh tanah. Sāmanera berusia tujuh tahun melihat hal ini, memberitahu kepada beliau. Tanpa tinggi hati, beliau memperbaiki jubahnya dan memberi sinyal tanda terimakasih pada sāmanera itu. Ini menggambarkan bagaimana saat tak tinggi hati jika diingatkan, meski ia lebih senior.

29. Mengunjungi para pertapa (Samanananca Dassanam)
Raja Wu bertanya pada Bodhidhamma, “apa ajaran Buddha itu?”
Bodhidhamma, “hindari keburukan, perbanyak kebaikan, murnikan pikiran”.
Raja Wu, “mudah sekali”. Jika ia seorang muslim, ia akan berkata, “oo cuma soal kebijaksanaan saja.”
Bodhidhamma, “didengar mudah, dipraktekkannya tak mau”.
Jadi, agama itu ada dan selalu ada, tapi tak semua orang mau beragama. Dalam arti, di KTPnya tercantum agamanya tapi ia tak melaksanakannya.
Orang atheist dan spiritulalit mengira jika doktrin dan naskah agama hilang maka agama juga hilang. Itu salah. Kenapa saya katakan demikian, karena kaburnya ajaran agama JUSTRU membuat penganut-penganut agama yang masih tersisa terdorong membentuk agama baru dengan meleburkan diri. Karena itulah, di masa depan, akan ada 3 agama: Islam + KristenYahudiHinduBuddha + AtheismSpiritulalism, lalu akhirnya tinggal 2: Islam dan Buddhi, lalu akhirnya tinggal Buddhi. Lalu akhirnya Buddhi lenyap, lalu akhirnya Buddhi muncul lagi bersamaan lahirnya Metteyabuddha. Lalu saat mulai lenyap lagi barulah bumi hancur.
Agama ada tapi tak semua orang mau beragama. Karena itulah mengunjungi para pertapa dapat melecutkan pengetahuan kita lebih dalam tentang agama. Misalnya saja Anda bisa mengunjungi blog-blog Saya, agar Anda semakin taat dan alim.
Saya ulangi, hilangnya kitab agama tak membuat agama hilang dan menjadi spiritulalism, melainkan akan membuat munculnya nabi baru untuk membuat agama baru dengan dibekali kekuatan yang sanggup menundukkan jutaan orang. Itu sudah hukum alam. Kasihan.

30. Membahas Dhamma pada saat yang sesuai (Kalena Dhammasakaccha)
Kita tak bisa membahas dhamma di saat makan, karena yang mendengar akan selalu menganggap kita melantur.
Kita tak bisa membahas dhamma di saat mau tidur, karena cuma akan tersimpan di bawahsadar dan lama baru akan bicara lagi topik yang sama.
Kita tak bisa membahas dhamma saat mengendarai mobil, karena topiknya selalu kesana-kemari.
Kita tak bisa membahas dhamma saat berdiri, berjalan, berlari, karena tak juga mengerti akan yang dibahas.
Jika tetap juga dibahas tak apa, tapi hasilnya tak sebaik membahas dhamma saat duduk-duduk.
Dalam hal ini, ingatlah akan sebuah kisah dari Agama Buddhi: Satu hari seorang pengusaha datang mengunjungi orang suci mendiskusikan masalahnya. Pertapa tersebut tidak memberikan jawaban tetapi menawarkannya secangkir teh, sambil berkata, “Sekarang minum ini lalu jawab sendiri pertanyaan Anda.” Setelah pengusaha itu melakukannya, akhirnya ia mampu menjawab sendiri semua masalah hidupnya.
Pengusaha itu berkata dengan kaget, “eh, kok saya bisa jadi dukun!”
Pertapa itu berkata, “hari ini Anda sudah merasa berbagai minuman, sama dengan pikiran Anda yang ada berbagai macam. Anda cuma bisa menjawab masalah Anda jika Anda tarik semua pikiran Anda ke satu titik saja.”
Pengusaha itu pun pulang dengan perasaan senang, sementara pertapa itu mendirikan Agama Buddhi, Akademi Komunikasi, dan Perguruan Peremuk Tulang, dan tetap meneruskan tehnik pengajarannya yang disebut Proses Destabilisasi dalam Ilmu Komunikasi Transformasi yang disebarkannya. Kini ia lebih dikenal dengan nama Pendekar Suci Tapak Buddha Ratu Adil Satria Pinandhita Sinisihan Wahyu, yang sedang membangun negara baru dengan Suku Va, pasukan clonenya. Kadang-kadang, disela-sela kegiatannya, kita bisa melihatnya sedang menolong banyak orang dengan energy kosmos yang dimilikinya yang merupakan hasil puncak meditasinya, yaitu Sinar Buddha.
Sampai sekarang anak-anak kecil tertawa jika membaca kisah Zen, tentang pendeta yang terus menuangkan air di cangkir yang kosong meski tumpah terus. Lalu berkata, “cangkir ini pikiranmu, buang dulu isi pikiranmu yang lama biar bisa dimasukkan yang baru.” Gila gak?
itulah 1 dari 101 koan Zen yang semuanya salah secara nalar dan logika. Karena itulah di Theravada, penggantinya adalah Jataka.

31. Bertapa (Tapo Ca)
Bertapa artinya: Memanaskan tubuh dengan ritual atau gerakan tertentu agar bangkit cahaya kesucian/kebenaran.
Wirid “Bud dha..” termasuk bertapa. Bersumpah akan melakukan kegiatan tertentu seperti sumpah palapa termasuk tapa.
Duduk atau berdiri terus-menerus hingga seluruh alam mau membantu termasuk tapa. Dan lain sebagainya.
Sabar, atau “menahan” termasuk tapa, dan menurut Buddha adalah tapa tertinggi.
Saya tak akan mengatakan apa yang akan Anda dapat jika sabar terus. Karena ini ujian bagi makhluk hidup agar mau melakukannya dengan santai. Bukan ikhlas seperti kata Islam. Ikhlas itu ajaran salah. Kenapa salah, kapan-kapan saja Saya katakan. Untuk apa semua Saya suap, nanti kalian sulit tercerahkan.
Jadi gak perlu sok elit cuma karena bisa ikhlas. Karena itu selain salah juga malu-maluin jika dilihat orang bijak seperti Ratu Adil Satria Pinandhita.
Tapa sangat dibutuhkan bagi orang-orang yang tak kenal agama. Tapa inilah contoh latihan agama yang bisa dilakukan oleh orang atheist. Meskipun melakukannya sedikit malu, karena tak mau beragama tapi ambil ajaran agama untuk bisa bertahan hidup. Hahaha… kasihan deh.
Seperti yang sudah ditulis di atas, tapa itu ada banyak jenis karena tujuan hidup seseorang sangat banyak, meski tak semestinya ia punya tujuan seperti itu. Meski tujuan hidup sebenarnya satu. Karena manusia itu sebenarnya Anatta/tak punya kuasa memilih dan memutuskan. Tak ada freewill. Manusia cuma punya kuasa mengarahkan dan membentuk pikiran sesuai yang dikehendaki. Semua buku “tentukan jalan hidupmu” seperti The Secret tak ada gunanya. Lebih baik berpegang pada Vipassana, membuat hidup jadi hidup. Membuat hidup seluas alam itu sendiri. Bukan seluas apa yang kita mau. “Saya mau mobil saya begini, Saya mau istri saya begini. Saya mau pikiran saya begini” semua ini tak ada gunanya. Cukup diam dan berpegang pada SEKARANG. Karena “bahagia itu sekarang” – Ratu Adil. Maka akan dipilihkan oleh alam apa yang memang terbaik untuk kita. Siapa tahu ada model mobil yang lebih bagus, siapa tahu ada istri yang lebih bagus, siapa tahu ada agama yang lebih bagus. Jangankan orang biasa, Sang Buddha pun tak punya kuasa mau ini mau itu saat ia sudah menjadi Buddha. Ia cuma mengikuti alunan kosmos terus-menerus hingga akhirnya ia mencapai tingkat “Wu Wei” (Tak Berbuat), sehingga menjadi Tao/alam. Tapi menjadi Tao/Tuhan/Keberadaan pun belum cukup di dalam agama Buddha. Keberadaan bukanlah apa-apa, bukan yang tertinggi. Ketiadaanlah yang tertinggi. Karena tiada maka tak menjadi. Sesudah tak bisa lagi menjadi karena habis bahan bakar itulah Nibbana (Tak Menjadi).
Akhir kata, tapa bukanlah latihan agama tertinggi, tapi cuma salah satu titik start. Orang yang selalu siap untuk bertapa saat ia susah, ia PASTI sukses. Karena itu Buddha memasukkannya sebagai salah satu kunci sukses dari 38 kunci sukses.

32. Menjalankan hidup suci (Brahmacariyan Ca)
“jangan masuk pada apa yang tumbuh dan menjadi”
“sehebat-hebatnya motivator perumahtangga lebih hebat penceramah bhikku”

- Muni Sutta.
Se’hebat-hebat’nya seorang motivator, kalau ia masih berumahtangga, berarti ia masih membunuh demi keluarganya. Paling tak membunuh nyamuk agar bayinya bisa tidur nyenyak. Tapi orang yang tinggal sendiri masih mau menderita digigit nyamuk daripada membunuh nyamuk itu.
Pemenuhan pada satu keinginan kecil taklah membuat keinginan itu padam, tapi justru mengakar dan menguat.
Misalnya:
Latihan lv 1: Jika mau ngeseks jangan ditahan-tahan, itu bisa jadi penyakit. Carilah cewek untuk bersetubuh.
Ini latihan bagus agar tak munafik dan agar bawahsadar bersih dari penyakit. Tapi tak ada perkembangannya bagi pembersihan bawahsadar. Jadi, bawahsadar memang bersih dari kamma buruk dengan berbuat begitu, tapi masih belum bersih dari kamma baik. Karena setiap bernafsu selalu nafsu itu dikasih makan.
Latihan level akhir: Jika mau ngeseks, jangan lupa vipassana. Hiduplah berselang-seling antara Vipassana dan bersetubuh, sampai akhirnya lebih suka Vipassana daripada bersetubuh, dikarenakan kesadaran akan Dhamma atas Lobha/ketamakan. Inilah latihan seorang buddhist yang sebenarnya.
Sebaiknya jangan sok elit dengan masuk vihara menjadi bhikku. Jadi bhikkhu itu perlu dikaji dulu segala kesiapan fisik dan mental (baca tulisan mahavatar: Pilih jadi puthujana atau bhikku?).  ”Aku tak menyebut seseorang itu bhikku cuma karena ia berjubah, botak, dan membawa mangkok. Kusebut ia bhikku jika ia melatih mental setiap saat” – Dhammapada.
Ada ilmu-ilmu yang tak bisa menetap di tubuh karena ilmu itu mensyaratkan ketakmelekatan pada indra. Misalnya ilmu Tapak Buddha lv 7 Pedang Da Mo. Karena itulah Buddha memasukkan “menjalankan hidup suci” sebagai salah satu dari 38 kunci sukses.

33. Menembus empat kebenaran mulia (Ariyasaccana Dassanam)
Penemuan Sang Buddha tentang Kebenaran adalah sebagai berikut:
1. Kebenaran mulia tentang penderitaan. Semua bentuk kehidupan adalah penderitaan (dukkha sacca)
2. Kebenaran mulia tentang sebab timbulnya penderitaan (dukkha samudaya sacca)
3. Kebenaran mulia tentang berakhirnya penderitaan. Ketika sebab penderitaan telah tiada akibat pun lenyap (dukkha nirodha sacca)
4. Kebenaran mulia tentang jalan menuju berakhirnya penderitaan (dukkha nirodha gamini paṭipadā sacca) , yaitu:
a. Sammā diṭṭhi (pandangan benar)
b. Sammā sankappa (pikiran benar)
c. Sammā vācā (ucapan benar)
d. Sammā kammanta (perbuatan benar)
e. Sammā ājīva (mata pencaharian benar)
f. Sammā vāyāma (usaha benar)
g. Sammā sati (kesadaran benar)
h. Sammā samādhi (konsentrasi benar)
Jika ini semua sudah ditembus, maka hidup terasa ringan karena orang itu bukan sedang bergerak dalam hidup. Hidup itu sendiri tetap menyebalkan. Orangnya saja yang sudah keluar dari pernak-pernik hidup. “Hidup itu menyebalkan” – Buddha. Menyebalkan karena kalau haus perlu minum, kalau lapar perlu makan, kalau miskin perlu usaha. Tapi mau tak mau perlu kita terima karena itulah hidup. Hidup itu menyebalkan.

34. Pencapaian Nibbana (Nibbana Sacchikiriya Ca)
Nibbana dicapai melalui Vipassana. Vipassana membuat orang tembus Jhana 9 saat ia sedang bersamatha. Dulu Siddharta Gotama tak mampu tembus jhana 9, cuma mampu jhana 8, karena tak diajar Vipassana oleh dua guru hindunya. Sesudah ingat lagi pengalaman masakecilnya meditasi di bawah pohon jambu, Ia menemukan Vipassana. Dan sesudah diujicoba ke tubuhnya sendiri, ia ternyata tembus jhana 9. Jhana 4-8 cuma mampu merealisasikan Abhinna/kesaktian. Tapi jhana 9 merealisasikan Nibbana.
Sejak itu ia mengajar metode Vipassana bersamaan dengan Samatha pada semua orang, karena terbukti bagus.
Jika Nibbana belum tercapai, seseorang belum sukses menjadi Buddha. Karena itulah inipun termasuk salah satu dari 38 kunci sukses.

35. Meski diikuti hal-hal duniawi, tapi pikiran tak tergoyahkan (Phuttassa Lokadhammehi Cittam Yassa Na Kampati)
“Membuang kemelekatan terhadap segala sesuatu; tidak membicarakan hal-hal yang berkenaan dengan nafsu keinginan. Dalam menghadapi kebahagiaan ataupun kemalangan, tak menjadi gembira ataupun kecewa.” – Dhammapada 83.
Melihat film humor tak perlu sampai tertawa. Karena jika tertawa berarti belum ada Upekkha (keseimbangan). Seorang bhikku dilarang membuat humor atau bercanda untuk menarik perhatian umat. Umat itu harus tertarik karena kebenaran kata-kata bhikku itu, tanpa bhikku itu perlu bermain intonasi.
Bagaimana mungkin mengajar kunci sukses nomor 35 ini, jika bhikkunya sendiri mengarahkan pikiran umat untuk menganggap bahwa tertawa itu sehat, humor itu sehat. Padahal humor itu sakit, karena membuat orang tak tembus jhana 4. Tertawa itu sakit, karena membuat orang tak tembus jhana 4.

36. Tiada sedih (Asokam)
Maksud tiada sedih disini bukan cuma untuk diri sendiri, tapi untuk semuanya. Kita pun harus berusaha agar makhluk-makhluk di sekitar kita tak sedih.
Agar tak sedih kita harus mengingat ucapan Ratu Adil yang mahabijak, “bahagia adalah sekarang“.
Sedih adalah kegiatan masalalu, bukan masasekarang. Orang yang bervipassana tak mungkin sedih, karena saat hendak sedih, ia ingat di pikirannya, “yang lalu itu sedih.” lalu ia ingat lagi, “sedih yang lalu itu.” lalu ia ingat lagi “lalu”. Dan tak sampai menjadi sedih. Tapi jika sudah terlanjur sedih sudah terlambat bervipassana, cuma bisa menjadikan itu sebagai pengalaman agar selalu ingat untuk bervipassana. Jadi, tak benar jika Hudoyo mengajar, “saat sedih dicatat saja sedih”, itu tak mungkin. Tak ada orang yang bisa begitu. Katak pun tertawa mendengarnya.
Jika latihan tiada sedih sukses, maka anda pun akan sukses dengan latihan tiada sakit (Ratu Adil sudah menemukan Energy Sinar Buddha dari wujud vipassananya yang sudah tamat yang bisa menyembuhkan segala penyakit dari sakit fisik sampai sakit hati dan sakit gay), akhirnya akan berlanjut menguasai Ilmu Rawarontek yang bisa membuat hidup hingga berabad-abad. Kecuali orangnya beberapa minggu kemudian sudah jadi Buddha.
Sebenarnya aku bisa hidup berkalpa-kalpa dengan kesaktianku, tapi hidup sehari penuh kesadaran lebih baik dari hidup seribu kalpa tanpa kesadaran” – Buddha sebelum mati.

37. Tanpa noda (Virajam)
Saat lahir, manusia sudah kotor dan bernoda, karena membawa kamma-kamma dari kelahiran sebelumnya. Saat ia bayi, ia belum memulai kamma baru, saat ia mulai anak-anak ia mulai berbuat baik dan buruk tanpa ada yang membimbing karena kammma buruknya sebelumnya ada saat ia cuek melihat orang lain berbuat baik dan buruk. Kamma ini menimpa banyak manusia, kecuali anak-anak type bhikku atau penceramah yang dimasa dewasanya akan jadi penceramah agama maka perbuatannya sejak anak-anak sudah ditentukan Dhamma agar ia menjadi manusia hebat. Misalnya saja, Siddharta waktu anak-anak dibawa arus Dhamma untuk punya hari dimana ia meditasi di bawah pohon jambu. Agar di waktu ia dewasa, moment ini bisa diingatnya untuk mengembangkan ilmunya.
Makanya, jika kita mau terlahir jadi anak yang diatur alam sejak kecilnya, jangan sekalipun kita cuek melihat cara masyarakat bertingkahlaku di kehidupan kita yang sekarang.
Saya ulangi, saat bayi belum memulai kamma baru meski sudah kotor, saat anak-anak umumnya mulai membuat kamma baik dan buruk tanpa ada yang membimbing (ucapan ortu bijak tak ada pengaruh, karena ucapannya baru akan di pakai di hari depan oleh anak itu), saat mulai remaja, barulah anak itu mulai belajar mengelola pikirannya, sehingga ia mulai bisa mengatur mau mengeluarkan kamma jenis apa.
Noda itu datang dari pikiran, kebersihan pun dari pikiran. Noda dari pikiran tak terlatih, pembersihnya adalah pikiran terlatih. Pikiran tak terlatih adalah pikiran yang mengikuti aturan nafsu indra, pikiran terlatih adalah pikiran yang mengikuti aturan alam. Ini satu bentuk penjelasan Saya. Ada banyak jenis penjelasan Saya yang lain di kesempatan yang lain. “kadang-kadang saya bilang pikiran itu 2 macam, kadang-kadang saya bilang 3 macam, kadang-kadang saya bilang 5 macam, tergantung keadaan” – Buddha pada Sariputta.
Agar manusia bisa tanpa noda… tak mungkin. Tak mungkin manusia tanpa noda. “manusia tempatnya salah dan lupa” – Muhammad. Untuk ini Saya setuju, karena Buddha pun berpendapat sama, “manusia tempatnya bodoh, tamak, benci“. Jadi, manusia tak mungkin tanpa noda. Dari noda kita belajar tentang pembersihan, dari salah kita belajar benar, dari bodoh kita baru bisa jadi Buddha.
Untuk jadi tanpa noda itu bisa. Bukan tak bisa. Tapi namanya bukan lagi manusia, melainkan Buddha. “saya bukan manusia” – Buddha pada pertapa Dona.
Yaitu caranya dengan meditasi tentu saja. Itu saja.

38. Penuh damai (Khemam)
Bagaimana cara agar damai itu sebenarnya?
Caranya adalah dengan mendapatkan dulu kunci sukses ke-35. Jika sudah dapat itu Anda damai dengan sendirinya, karena damai itu adalah hasil dari bahagia, sedang bahagia adalah hasil dari ketenangan. dan ketenangan adalah hasil dari pikiran yang seimbang (tak tergoyahkan suka dan duka).
Dasar kalian tolol.

 

Ditulis dalam Khuddaka Nikaya | 35 Komentar »

38 Kunci Sukses (Kajian Atas Mahamangala Sutta) – Part 1

Ditulis oleh Bhikkhu Dhammaraja di/pada April 5, 2009

 watphrayai

 

1. Tak Bergaul Dengan Orang Bodoh (Asevana Ca Balanam)
Orang bodoh membuat proses belajar kita menjadi terganggu.
Orang bodoh kehidupannya jauh dari Dhamma.
- Ia akan mengajak kita berlatih reiki.
- Ia akan mengajak kita belajar ilmu hacking.
- Ia akan mengajak kita memancing.
- Ia akan mengajak kita ikut kursus yoga.
- Ia akan membuat kita harus memukulnya karena melekat pada pandangan yang salah.
- Ia akan memancarkan vibrasi positif, sehingga kita terpaksa mengimbanginya.
- Ia adalah salah satu dari 2 orang ini:
a. Orang yang sok menjadi motivator/bhava tanha (bawahsadar terus-menerus ditambah dengan ide-ide baik).
b. Orang yang sok sudah tercerahkan/vibhava tanha (komat-kamit soal keberadaan, spiritualitas).
Sedang orang yang melekat pada nafsu indra tak apa dijadikan teman, karena belum tentu ia bodoh.
“Orang bodoh bukanlah bodoh jika ia tahu ia bodoh” – Dhammapada.
- Dsb.

2. Bergaul dengan Orang Bijak (Panditananca Sevana)
Orang bijak meningkatkan derajat keberagamaan kita.
- Ia akan memberitahu toko-toko yang menjual buku Dhamma.
- Ia akan memberitahu cara belajar yang baik.
- Ia akan memberitahu lokasi-lokasi cewek yang bisa diajak main.
- Ia akan membuat kita tambah maju, tampan, kaya, pintar, karena terpengaruh vibrasi yang pas, yang bukan vibrasi positif, darinya.
- Dsb.

3. Menghormat yang Pantas Dihormati (Puja Ca Pujaniyam)
Yang pantas dihormati adalah orang yang sedang berusaha baik, benar, bijak.
Yaitu dari tingkat seorang murtad, seorang buddhist, lalu para Sotapanna-Arahat.
Yang pantas dihormati adalah apapun dan siapapun yang membuat kita tercerahkan.
Yang pantas dihormati adalah orang yang berusaha agar kita enak dan nyaman.
Yang pantas dihormati adalah cewek-cewek yang memuaskan kita di ranjang.
Semua ini pantas dihormati karena sedang berusaha baik, benar, bijak.

4. Tinggal di Lingkungan yang Cocok (Patirupadesavaso Ca)
Lingkungan yang tepat adalah lingkungan yang mendukung kultivasi mental.
Lingkungan yang tepat adalah lingkungan dimana kita tak kurang sandang pangan sehingga kita bisa hidup, belajar, berkembang baik.

5. Berkah Jasa-jasa dari Kehidupan Lalu (Pubbe Ca Katapunnata)
Jika tak mau rusak, jangan merusak.
Jika mau senang, bikin senang.
Jika mau hidup mulia, muliakan yang pantas dimuliakan.
Jika mau hidup bagus dan sempurna, sikat semua yang buruk dan salah.
“inilah hidup yang salah, hasil dari tak bangkit melawan apa yang perlu dilawan” – Culakammavibhanga Sutta.

6. Menuntun Diri ke Arah yang Benar (Attasammapanidhi Ca)
Pasang bawahsadar yang bagus.

7. Ilmu Yang Luas (Bahusaccan Ca)
Didapat dari:
- Banyak membaca dan membeli buku.
- Berhubungan dengan orang-orang yang tepat.
- Beragama yang tepat, yaitu Agama Buddhi.
Tapi menjadi Buddha bukan berarti harus tahu semua hal. Arti dari Avijja/kebodohan, bukanlah tak tahu semua. Melainkan tak tahu, mana yang jalan dan mana yang bukan jalan. Tak tahu seharusnya ia memakai ilmunya untuk menghapus keberadaannya. Memakai pikiran untuk bebas dari pikiran, perasaan, kesadaran, dan persepsi. Sedangkan berkembang sudah merupakan fitrah manusia sejak lahir. Tak perlu diberitahu setiap makhluk pasti merespon lingkungannya dengan cara berkembang.
Satu hari Buddha berjalan-jalan di hutan bersama murid-muridnya, lalu meraup sejumlah daun dan bertanya, “mana yang lebih banyak, dalam tanganku atau di hutan ini?” Bhikku menjawab, “yang dihutan, Yang Mulia“. “Begitupula ilmuku“, kata Buddha. “Tapi cuma sedikit yang kuberi, yaitu bagian-bagian yang membebaskanmu saja“. Jadi, Anda tak perlu harus tahu bahasa jerman, Prancis, dsb, jika semua itu tak membuat Anda terbebaskan dari penderitaan Anda.
Sebagai bukti, Siddharta Gautama yang dibesarkan sebagai pangeran tentu mendapat semua ilmu yang ada saat itu, tapi nyatanya, semua tak mau dipakainya karena salah. Sebagai gantinya ilmu-ilmu itu cuma dipakai sebagai dasarnya sebagai seorang lelaki yang kuat dan macho, tapi saat menjadi Buddha, Ia cuma pakai Samatha Bhavana dan Vipassana Bhavana. Lalu ia bangkit melawan Veda dengan doktrin-doktrinnya, seperti Tevijja Sutta, Alagaddupama Sutta, Mulapariyaya Sutta, Brahmanimantanika Sutta, Culamalunkyaputta Sutta.

8. Punya Keahlian (Sippan Ca)
Yang dimaksudkan Sang Buddha, adalah, orang harus jadi yang terbaik dalam bidang yang ia pilih.
Inilah pentingnya bebas dari bayangan keinginan dan harapan orang lain, dan mulai hidup atas keinginan dan harapan sendiri. Inilah arti dari “be yourself”.

9. Terlatih Dalam Disiplin Prilaku (Vinayo Ca Susikkhito)
Pikiran adalah pemulai, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Jika seseorang memulai aktifitas dengan baik, maka segalanya akan baik. Ini adalah benih bagi kepintaran dan pencerahan.
Yang dimaksudkan dengan “terlatih dalam disiplin prilaku” adalah pikirannya sudah punya system sendiri dalam mengatur setiap gerak-geriknya, dikarenakan ia sudah memprogramnya melalui praktek sila/tatakrama. Dengan demikian pikirannya tak tergoyahkan dalam menerima arus informasi, dan informasi itu bisa direkam dan diolah dengan baik sehingga menjadi Pencerahan.
Seseorang yang disiplin dalam apapun yang ia tekuni tak akan menciptakan masalah bagi dirinya, sehingga ia terus maju.

10. Ramah Saat Bicara (Subhasita Ca Ya Vaca)
Ucapan adalah kunci memahami pikiran. Ucapan ramah dapat dilatih dengan Ilmu Komunikasi Transformasi, sehingga Anda bisa bertransformasi menjadi sosok yang Anda kehendaki. Jangan mencoba untuk keras, lembut, tapi ikuti saja gerak alam dengan Komunikasi Transformasi.
Ucapan seperti “selamat pagi” bukanlah keramahan tapi jaman sekarang itu cuma basa-basi. Memuji secara berlebihan dan menjilat juga bukan keramahan.
Guna keramahan dalam ucapan adalah untuk meminimalisir jumlah musuh.Dengan memulai dari keramahan, berarti sebagai buddhist kita sudah berbuat baik. Selanjutnya terserah Anda.
 

11. Merawat Ayah dan Ibu (Matapithu Upathanam)
Ortu disebut sebagai pubbācariya, guru pertama. Karena kita belajar hal-hal awal dari ortu dulu.
Di dalam Sigalaka Sutta, Digha Nikaya 31.28 , Sang Buddha juga menguraikan kewajiban anak kepada orang tuanya sebagai berikut :
1. Menyokong mereka
2. Menjalankan kewajiban mereka
3. Menjaga tradisi keluarga
4. Berupaya melakukan sesuatu yang berharga bagi keluarga
5. Melakukan penghormatan terhadap mereka ketika meninggal (penghormatan terhadap leluhur)
Berdasarkan Vipassana, “ortu” dilihat sebagai “ortu”. “Ortu” tak dilihat sebagai “mereka lebih tahu”, atau “mereka kolot”, atau “mereka mau yang terbaik”. Jadi memandang ortu lebih pada fungsionalitas mereka, bukan atas dasar standar moral di masyarakat.
Sang Buddha juga mengajar pada kita bahwa penghormatan pada ortu tak dilakukan setinggi-tingginya, melainkan seperti yang diajar Dhamma pada kita saat kita mempraktekkan Dhammanupassana dan Tipitaka.
“Barang siapa dapat mendorong orang tuanya yang tidak percaya menjadi berkeyakinan, orang tuanya yang tidak bermoral menjadi berkebajikan, orang tuanya yang kikir menjadi murah hati, orang tuanya yang bodoh menjadi bijaksana, dengan berbuat begitu, orang ini telah membalas, bahkan ia telah berbuat lebih daripada sekedar membalas jasa-jasa orang tuanya” – Anguttara Nikaya I, 61.

12. Mendukung anak dan istri (Puttadarassa Sangaho)
Sebagai kaum awam, dalam hidup berkeluarga harus menjaga tanggungjawab dengan mendukung anak dan istri.
Dalam Sigālovāda Sutta (khotbah yang disampaikan kepada Sigāla), Sang Buddha menjelaskan bagaimana sikap antara suami dan istri.
Sang Buddha juga mengatakan bahwa jika suami dan istri mau bersatu kembali setelah kematian, maka dalam kehidupan ini harus kompak dalam pikiran, ucapan, perbuatan.
Seseorang yang lama ketemu jodoh, bukan berarti di masa lalu tak kompak, melainkan si calon suami hendak mempersiapkan diri dulu sebaik-baiknya sebelum meminta dipertemukan jodoh, yaitu dengan melatih stamina seks sudah bagus atau belum, ukuran penis sudah pas belum. keuangan sudah bagus belum. Sesudah semuanya pas, baru RAS diaktifkan untuk ketemu jodoh. Maka dijamin sang istri akan menguik seperti babi.

13. Bekerja bebas dari pertentangan (Anakula Ca Kammanta)
Kegiatan, mata pencaharian, perbuatan, pekerjaan, bahkan kegiatan bisnis pun dapat dikatakan sebagai “kammanta”. Kesimpulannya, segala kegiatan yang dilakukan baik untuk mengumpulkan nafkah maupun tindakan yang hanya membuang waktu dapat dikategorikan sebagai “kammanta”.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan seharusnya “anakula” -bebas dari pertentangan. “Anakula” juga berarti segala tindakan yang tidak mengakibatkan perselisihan atau kecemasan.
Untuk bekerja bebas dari pertentangan mental dan masyarakat, kita harus memilih pekerjaan yang sesuai bakat dan intelegensi kita sendiri.
Sang Buddha memasukkan “bekerja bebas dari pertentangan” sebagai salah satu kunci sukses adalah karena dengan bekerja bebas dari pertentangan seseorang tak mengalami sial, dikarenakan energy kreatifnya tak terhambat.

14. Berdana (Danan Ca)
Punya karena memberi.” – Ratu Adil.
Setiap ada aksi, maka ada reaksi berlawanan yang besarnya sama.” – Newton.
Jadi, jika mau kaya memang harus memberi.
4 Jenis Dana:
1. Amisa Dana: Pemberian suatu materi, seperti uang untuk pengemis.
2. Dhamma Dana: Pemberian kebenaran, seperti blog-blog Ratu Adil.
3. Abhaya Dana: Pemberian kehidupan, seperti donor darah.
4. Paricaya Dana: Pemberian perhatian, seperti waktu.
Perlu diketahui bahwa untuk menjadi kaya, bukan berarti yang harus diberi berupa uang juga. Setiap dana diatas bisa diminta agar berbuah dalam bentuk jenis kamma yang berbeda, cukup dengan niat.
Dan perlu diketahui, batas dalam memberi adalah, saat pemberian itu tak lagi memacunya untuk belajar.
Karena itu, meski di depan Buddha ada wanita hendak diperkosa belum tentu Buddha mau menolongnya, meski ia melihatnya dengan Mata Buddha. Kecuali, jika pertolongannya dapat membuat wanita itu teringat Dhamma, dan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Jadi bukan soal “kasih kait” seperti kata muslim, itu adhamma.
Hal ini dilakukan Buddha, dengan memandang bahwa manusia adalah hasil kamma-kammanya sendiri. Dengan ia menderita, utangnya terlunasi sebagian.
Jika orang yang tak memiliki kebijakan melihat orang hendak dibakar, mungkin ia menjadi kasihan dan hendak menolong.
Jika orang itu melihat sendiri bahwa orang itu dulunya pernah membakar orang lain, ia cuma akan menolong jika pertolongannya dapat membuat orang itu merasa bersyukur diberi kesempatan hidup dan kali ini akan mencoba berbuat baik.
Adapun kedua jenis orang ini tetap mendapat amal baik sesuai dengan porsi kebijakan masing-masing.
Dalam Vinaya Pitaka, Sang Buddha melarang para bhikku membuka praktek pengobatan seperti reiki. Reiki secara massal adalah adhamma, berhubung itu mengkondisikan masyarakat agar terjerumus dalam kemelekatan akan fisik yang selalu sehat (bhavatanha).
Adanya seseorang seperti Jesus yang muncul di tengah masyarakat dan melakukan pengobatan massal gratis taklah sebaik munculnya seorang Buddha seperti Ratu Adil Satria Pinandhita yang melakukan ceramah pada orang-orang tertentu saja yang sudah matang buah kammanya untuk ke tingkat lebih tinggi.

15. Dhammacariya Ca (Hidup sesuai Dhamma)     
Hiduplah sesuai dengan Jalan Mulia Beruas Delapan, maka selama hidup kita selalu untung dan senang.
Makna kata “dhammacariyā” adalah “berperilaku sesuai Dhamma”. Dhamma sendiri secara umum diartikan sebagai tugas/kewajiban/kebenaran.
Orang lain mencuri, kita tidak.
Orang lain berzina, kita tidak.
Orang lain memaki, kita tidak.
Orang lain menipu, kita tidak.
Orang lain keras, kita tidak.
Orang lain lembut, kita tidak.
Orang lain spiritual, kita tidak.
Orang lain motivator, kita tidak.
Orang lain islam, kita tidak.

16. Membantu keluarga (Natakananca Sangaho)
Besar kamma baiknya bagi yang membantu keluarga, yaitu ia akan terlahir sebagai orang dengan berbagai kemudahan tersedia di sekelilingnya setiapkali ia meminta.
Sang Buddha menjelaskan kebajikan ini dalam syair berikut:
Dhīroca bhoge adhigamma
Sanganhāti ca ñātake
Tena so kittim pappoti
Pecca saggeca modati

Jika orang bijak hidup makmur, membantu keluarga. Melalui kebaikannya, ia mendapat nama baik dimanapun ia tinggal. Ia dipuji orang banyak sebagai orang baik dan pada kelahiran berikutnya, ia akan terlahir di alam surga yang menyenangkan”.

17. Perbuatan tanpa noda (Anavajjani Kammani)
Jika kita berpikir, berkata, berbuat, dengan noda, maka kehidupan kita pasti akan ternoda. Benar atau tak?
Anda mungkin sudah menjaga keperawanan Anda baik-baik, tapi di tengah jalan tiba-tiba Anda diperkosa. Itu karena pikiran Anda dulu bercabang, di satu sisi Anda ingin hidup berkeluarga tapi di sisi lain Anda mau bebas bersetubuh dulu selagi muda. Setiapkali ada dilema di saat Anda berpikir, itu disebut berpikir dengan noda. Setiap kali Anda berbuat dengan noda, maka hidup Anda akan memiliki konflik, yang ditimbulkan dilema batin Anda sendiri dulunya.
Seandainya saja Anda cuma punya satu pikiran saja setiap berpikir, tak ada konflik dalam hidup.
Berpikir ingin hidup berkeluarga saja, menghasilkan rumahtangga yang baik dimana Anda masih perawan di dalamnya.
Berpikir ingin bebas bersetubuh di waktu muda, menghasilkan masa muda penuh orgasme dan kebahagiaan karena sudah merasa berbagai macam penis.
Dua bentuk pilihan ini bebas konflik dan derita sama sekali. Kenapa? Karena pikiran Anda terpusat saat memikirkannya dulu.
Jadi, setiapkali Anda punya konflik dalam kehidupan, ingat-ingatlah apa dulu Anda pernah punya konflik batin atau tak. Karena RAS akan memunculkan semua yang kita pikir, ucap, buat.

18. Menjauhi kejahatan (Arati Papa)
Sebelum berpikir untuk menjauhi kejahatan, seseorang harus mengerti Dhamma dulu. Bukan seperti Anand Khrisna, dkk yang cuma sok bilang, “ah, percuma saja Anda belajar spiritual, lihat wanita di jalan saja masing senang.” Ia bilang begitu kan waktu ia sudah tua, waktu kontolnya sudah loyo. Semua orang bisa seperti itu, di kampung Saya banyak. Kenapa tak sekalian saja ia menulis buku “Muda Senang-Senang, Tua Buka Ashram”.
Kita tak mungkin belajar dari Anand Khrisna, alasannya gurunya seorang gay, karena sejak kecil dipaksa jin untuk buka ashram. Sedangkan gurunya satu lagi, yaitu Osho cuma seorang bandot tua. Buddha berkata, “seseorang yang menjadi gay atau lesbian adalah akibat kamma buruk di masalalu“.
Akar yang rapuh tak mungkin menghasilkan pohon yang kuat” – Ratu Adil Satria Pinandhita Sinisihan Wahyu.
Jadi, kita tak perlu datang ke Anand Khrisna, tapi kita perlu melestarikan buku-bukunya khusus untuk muslim, jadi mereka ada panduan jika hendak memilih murtad. Siapa yang tak mematuhi perintah Ratu Adil akan mendapat hukuman berat.
Semua yang diminta harus diberi, jika tak musnah satu keluarga” – Jayabaya.
Siapapun yang tak mau masuk Agama Buddhi, Saya jadikan makanan genderuwo” – Sabdo Palon.
Kita bisa menilai saat-saat dimana Anand Khrisna sedang sok alim, yaitu di saat ia berkata…
“lihat wanita cantik senang anda…”
“uang mulai kurang, korupsi kan?”
“meditasi sedikit, wah kundalini anda naik nih…”
Sudahlah, gak usah sok alim atau sok pintar. Memuakkan bagi yang melihatnya.
Arti “Ārati” di sini adalah tidak melekat, tidak melekat pada kejahatan. Sedangkan kata “Pāpā” adalah perbuatan jahat atau tidak bijak.
Jika seseorang melekat pada perbuatan jahat, maka ia akan selalu jahat. Misalnya, seseorang yang di masa mudanya diperkosa, lalu ngedrug, lalu mejadi pelacur, bisa saja ia menjadi takut untuk berhubungan dengan lelaki baik. Alasannya, ia merasa sudah kotor. Maka ia terus melacur dan ngedrug. Inilah yang disebut melekat pada perbuatan jahat.
Tapi jika ia menyadari bahwa kehidupan cuma kumpulan siklus arus kesadaran berkelanjutan maka, ia akan terus bergerak dan bekerja untuk lebih baik, sebagaimana buddhist-buddhist lainnya. Tapi bagi yang merasa hidup cuma sekali, susah. Susah sekali. Inilah pentingnya agama benar, seperti Agama Buddhi.
Perbuatan jahat mengakibatkan seseorang tersesat, karena jika ia jahat, berarti ia sedang bodoh. Jika ia bodoh, berarti ia tak bisa tercerahkan. Misalnya saja anak-anak tuna grahita, tak mungkin mereka jadi Buddha, sebelum mati dan lahir lagi sebagai orang normal.
Perbuatan jahat cuma bisa dikikis dengan Usaha Benar (Samma Vayama):
a. Usaha untuk mencegah munculnya pikiran buruk
b. Usaha untuk melepaskan pikiran buruk yang telah muncul
c. Usaha untuk mengembangkan pikiran baik
d. Usaha untuk memelihara pikiran baik yang telah muncul
Pikiran adalah pemula, pikiran adalah perintis, pikiran adalah pembentuk. Jika seseorang berpikir jahat, maka jahatlah ia” – Dhammapada.
Orang jahat senang saat ia berbuat jahat, sedih dan meratap saat melihat hasil kejahatannya” – Dhammapada.
Dalam Agama Buddha, menjauhi kejahatan adalah kewajiban utama. Bait berikut ini menyatakan warna ajaran buddhism:
Sabbapāpassa akarana
Kusalassūpasampadā
Sacittapariyodapana
Eta Buddhāna sāsana
(Menjauhi kejahatan, mengumpulkan kebaikan, murnikan pikiran. Inilah ajaran Buddha).

 19. Tidak melakukan kejahatan (Virati Papa)
“Ini adalah jalan menuju usia pendek: Menjadi pembunuh makhluk hidup, kejam, tangan yang berlumuran darah, menyerah pada keributan dan kekerasan, tidak berbelaskasihan terhadap semua makhluk hidup.”
“Ini adalah jalan yang mengarah pada keadaan berpenyakitan: Menjadi penganiayaan makhluk hidup dengan tangannya, atau dengan batu, atau dengan tongkat, atau dengan pisau.”
“Ini adalah jalan yang mengarah pada keburukan wajah: Menjadi sangat geram, marah, bersikap tidak ramah, benda dan menunjukkan tabiat jelek, kebencian dan kebengisan.”
“Ini adalah jalan yang mengarah pada dilecehkan: Menjadi pendengki, mendengki, ini, dan menunjukkan kedengkian pada keberuntungan, kehormatan, pemujaan, rasa hormat, salam dan persembahan orang lain.”
“Ini adalah jalan yang mengarah pada kemiskinan: Tak menjadi penderma makanan, minuman, pakaian, sandal, karangan bunga, wewangian, salep, tempat tidur, tempat berteduh dan penerangan kepada para bhikkbu dan orang suci.”
“Ini adalah jalan yang mengarah pada kelahiran hina: Menjadi keras kepala dan angkuh, tidak membeni penghormatan kepada siapa ía seharusnya memberi penghormatan, tidak bangkit melawan terhadap siapa ia seharusnya melawan, tidak memberi tempat kepada kepada siapa ia seharusnya memberi tempat, tidak memberi jalan kepada siapa ia seharusnya memberi jalan, tidak menyembah ia yang seharusnya disembah, tidak menghargai ia yang seharusnya dihargai, tidak memuja ia yang seharusnya dipuja, tidak menghormati ia yang seharusnya dihormati.”
“Ini adalah jalan yang mengarah kepada kebodohan: Saat mengunjungi rahib atau orang suci, tidak menanyakan: Apakah yang menguntungkan?_. Atau apakah, dengan melakukannya, saya akan lama mendapatkan kesejahteraan dan kebahagiaan?”
- Culakammavibhanga Sutta.
Jadi jelas, orang pintar tak mau berbuat jahat. Karena Anda yang di masadepan adalah Anda yang sekarang.

 

Ditulis dalam Khuddaka Nikaya | 6 Komentar »

Moggallana, Penguasa Ilmu Rawarontek

Ditulis oleh Bhikkhu Dhammaraja di/pada April 4, 2009

kayaganussati

Dikisahkan bahwa di Kolitagama dekat Kota Rajagaha lahirlah bayi laki-laki dari seorang brahmani bernama Moggali. Ia dinamai Kolita – sesuai dengan nama tempat kelahirannya-, tetapi belakangan lebih dikenal dengan nama yang merujuk ibunya, Moggallana. Kelahirannya bertepatan dengan kelahiran Upatissa (Sariputta) yang kelak juga menjadi Siswa Utama Buddha Gotama. Selama tujuh keturunan, keluarga Sariputta dan keluarga Moggallana menjalin hubungan yang sangat erat.

Pada suatu hari, mereka berdua pergi menonton suatu pertunjukkan, dan dari sanalah mereka menyadari ketaklanggengan segala sesuatu. Mereka kemudian menanggalkan keduniawian. Pada mulanya mereka berguru kepada Sanjaya Velatthaputta. Karena kurang begitu puas dengan ajarannya, mereka kemudian berkelana di seluruh Jambudipa untuk mencari kebenaran hidup. Agar pencaharian ini lebih sangkil, mereka memisahkan diri dengan janji untuk memberitahu yang lain apabila telah berhasil menemukan ajaran yang memuaskan.

Ketika sedang mengembara di Rajagaha, Sariputta berjumpa dengan Assaji Thera. Beliau berhasil mencapai kesucian tingkat Sotapatti hanya dengan mendengarkan dua baris pertama dari sebait syair: “Segala sesuatu muncul karena sebab. Sang Tathagata mengungkapkan sebab kemunculannya. Demikian pula sebab kepadamannya, diajarkan oleh Pertapa agung itu.” Beliau segera mencari Moggallana, dan begitu mengulangkan syair yang sama, kerabat kental beliau juga berhasil mencapi tingkat kesucian yang sama. Setelah gagal mengajak mantan gurunya -Sanjaya-, mereka berdua dengan diikuti oleh lima ratus siswa Sanjaya kemudian pergi mengunjungi Buddha Gotama yang sedang bersemayam di Veluvana. Setelah ditahbiskan dan mendapat wejangan langsung dari Beliau, mereka semua -kecuali Sariputta dan Moggallana- merah kesucian tertinggi, Arahatta. Moggallana baru berhasil mencapainya satu minggu kemudian, setelah menjalankan latihan meditasi yang sangat melelahkan.

Di hadapan pasamuan bhikku dalam jumlah besar, Sang Buddha menobatkan mereka berdua sebagi Siswa Utama (Aggasavaka).
Apabila Sariputta Thera terkenal karena kebijaksanaannya, Moggallana Thera terunggul karena kesaktian yang dimilikinya. Dipercayai bahwa beliau mampu mengunjungi beberapa alam kehidupan lain di luar dunia ini. Bukan hanya alam surga Tavatimsa kediaman Sakka -Raja Dewa- yang pernah disinggahi, bahkan alam brahma yang jauh lebih tinggi pun pernah dikunjungi. Beliau pernah membantu Buddha Gotama dalam menaklukkan kecongkakan Brahma Baka. Dalam suatu pertemuan yang khidmat di balai Sudhamma, beliau berhasil mendesak Baka untuk mengakui pandangan-pandangan lampaunya yang sesat. Beliau juga berjasa besar dalam mengumpulkan kesaksian para penghuni surga maupun neraka atas perbuatan-perbuatan yang menyebabkan mereka terlahirkan di alam sana. Setelah pulang kembali ke bumi, beliau menceritakannya kepada para siswanya. (edited, some parts were removed)

Pembeberan atas kesaksian-kesaksian tersebut, yang sesungguhnya merupakan suatu kenyataan tak terbantah, membuat sejumlah pemuka kepercayaan lain merasa tersinggung. Ada banyak di antara pengikut mereka yang beralih masuk ke dalam agama Buddha. Keuntungan serta penghormatan yang sebelumnya mereka peroleh kini mulai memudar dan menipis. Setelah mengadakan pertemuan rahasia, mereka akhirnya memutuskan bersama untuk mengupah beberapa pembunuh bayaran untuk menghabisi Moggallana Thera. Karena ditawari dengan bayaran yang sangat besar, para pembunuh tersebut menyanggupi perintah pembunuhan ini.

Mereka kemudian mengepung tempat kediaman Moggallana Thera di Kalasila. Beliau mengetahui niat jelek para pembunuh bayaran ini. Dengan kesaktian yang dimiliki, beliau berhasil menghindar dari kepungan mereka. Ini terjadi berkali-kali, namun dengan berbagai cara beliau selalu berhasil menghindar. Pada akhirnya, dengan kewaskitaan beliau menyadari perbuatan jahatnya dalam kehidupan lampau, yang telah masak dan siap untuk membuahkan akibat. Karena itu, beliau tidak lagi berusaha menghindar. Para pembunuh itu segera menangkap serta menggebuki Moggallana Thera hingga remuk tulang-tulangnya.

Menyangka bahwa korbannya telah tewas, para pembunuh itu kemudian melemparkan tubuh yang hancur remuk itu di balik semak-semak. Sesungguhnya, pada waktu itu Moggallana Thera belum sampai pada ajalnya. Didasari tujuan untuk menghadap Buddha Gotama yang sedang bersemayam di Veluvana, beliau menyatukan kembali tubuhnya yang telah hancur remuk dengan Ilmu Rawarontek, lalu pergi menemui Sang Buddha. Moggalana lalu pergi ke suatu hutan di dekat Kalasila dan mencapai Kemangkatan Mutlak di sana.

Ditulis dalam Dhammapada | 1 Komentar »

Samsara (Kisah Hidup Patacara)

Ditulis oleh Bhikkhu Dhammaraja di/pada Maret 30, 2009

Patacara merupakan putri seorang kaya dari Savatthi. Ia sangat cantik dan dijaga dengan sangat ketat oleh orang tuanya. Tetapi, suatu hari, ia meninggalkan rumahnya dengan kekasih pilihannya, seorang pelayan laki-laki dari keluarganya. Mereka pergi menetap di sebuah desa, kini ia sebagai istri orang miskin. Tidak berselang lama, ia hamil, dan pada saat persalinan sudah dekat, ia meminta izin kepada suaminya untuk kembali ke tempat orang tuanya di Savatthi. Tetapi suaminya melarang. Pada suatu hari, ketika suaminya pergi, ia pergi ke rumah orang tuanya. Suaminya mengikutinya, menangkapnya di perjalanan, dan memohon kepadanya untuk pulang bersama, tetapi ia menolak. Hal itu terjadi pada saat usia kelahiran sudah dekat. Akhirnya ia melahirkan anak laki-laki di semak-semak. Setelah melahirkan anaknya, ia kembali ke rumah bersama suaminya.

Sekali lagi hal di atas terjadi, ia hamil lagi, dan pada saat persalinan anaknya sudah dekat, ia pergi ke rumah orang tuanya di Savatthi. Suaminya mengikutinya dan menangkapnya di tengah perjalanan, tetapi saat persalinan datang dengan cepat dan juga hujan turun sangat lebat. Suaminya mencari tempat yang sesuai umtuk persalinan dan ketika ia membersihkan sebidang tanah, ia digigit oleh seekor ular berbisa. Ia meninggal dunia saat itu juga. Patacara menunggu suaminya dan pada saat menunggu itu ia melahirkan anak kedua. Pada pagi hari, ia mencari suaminya, tetapi ia hanya menemukan tubuh suaminya yang sudah kaku. Ia berkata kepada dirinya sendiri bahwa suaminya meninggal dunia karena dirinya, kemudian ia meneruskan perjalanan ke rumah orang tuanya.

Karena hujan yang tak henti-hentinya sepanjang malam, sungai Aciravati menjadi banjir, sehingga tidak memungkinkan baginya untuk menyeberangi sungai bersama kedua anaknya. Dengan meninggalkan anak tertua di tepi sungai sebelah sini. Ia menyeberangi sungai dengan anak laki-laki yang baru berumur sehari.

Ia menaruh bayi itu di tepi sungai, dan menyeberang kembali untuk menjemput anak tertua. Ketika ia berada di tengah sungai, elang besar melayang-layang menuju tempat anak kedua berada. Elang itu mematuknya seperti menggigit sepotong daging. Ia berteriak-teriak untuk menakuti-nakuti burung itu, tetapi semua itu sia-sia. Anak bayi itu telah dibawa pergi oleh elang besar. Pada saat itu anak yang tertua mendengar ibunya berteriak-teriak dari tengah sungai dan anak itu berpikir bahwa ibunya memanggilnya untuk datang kepadanya. Kemudian ia menyeberangi sungai untuk pergi ke tempat ibunya berada. Tetapi anak itu terbawa arus sungai yang sedang banjir. Patacara kehilangan ke dua anaknya, dan juga kehilangan suaminya.

Patacara mencucurkan air mata dan meratap dengan keras, “Seorang anak telah dibawa pergi seekor elang, anak yang lainnya terbawa arus, suamiku juga meninggal dunia digigit ular berbisa!” Kemudian ia melihat seorang laki-laki dari Savatthi dan dengan sedih menanyakan tentang orang tuanya. Laki-laki itu menjawab, badai yang terjadi di Savatthi kemarin malam telah merobohkan rumah orang tuanya dan kedua orang tuanya beserta tiga saudara laki-lakinya meninggal dunia serta telah dikremasikan di atas satu tumpukan kayu. Mendengar berita yang demikian tragis, Patacara menjadi gila, ia tidak peduli bahwa bajunya telah terlepas dari badannya, dan hampir tak berpakaian. Ia berlari-lari di sepanjang jalan, berteriak-teriak tentang kesengsaraannya.

Ketika Sang Buddha memberikan khotbah di Vihara Jetavana, Beliau melihat Patacara di kejauhan. Beliau menghendaki agar Patacara datang ke dalam pertemuan itu. Kerumunan orang mencoba untuk menghentikan Patacara, dengan mengatakan, “Jangan biarkan wanita gila itu masuk.” Tetapi Sang Buddha berkata kepada mereka agar tidak mencegah wanita itu masuk. Ketika Patacara cukup dekat untuk mendengar khotbah, Beliau berkata kepadanya untuk berhati-hati dan tenang. Kemudian ia menyadari bahwa ia hampir tidak memakai pakaian dan dengan malu ia duduk. Seorang yang hadir memberinya secarik kain, dan ia membungkus dirinya dengan kain itu. Ia kemudian berkata kepada Sang Budha bagaimana ia telah kehilangan anaknya, suaminya, saudara laki-lakinya dan orang tuanya.

Sang Buddha berkata kepadanya, “Patacara, jangan takut, kamu telah datang kepada seseorang yang dapat melindungimu dan membimbingmu. Sepanjang proses lingkaran kehidupan ini (Samsara), jumlah air mata yang telah kamu kucurkan atas kematian anakmu, suamimu, orang tuamu, dan saudara laki-lakimu sangat banyak, lebih banyak dari air yang ada di empat samudra.” Kemudian Sang Buddha menjelaskan dengan rinci “Anamatagga Sutta”, yang menjelaskan perihal kehidupan yang tak terhitung banyaknya. Berangsur-angsur Patacara merasa tenang. Kemudian Sang Buddha menambahkan bahwa ia seharusnya tidak berpikir keras tentang sesuatu yang telah pergi, tetapi seharusnya mensucikan diri dan berjuang untuk merealisasikan nibbana. Mendengar nasehat dari Sang Buddha, Patacara mencapai tingkat kesucian sotapatti.

Kemudian Patacara menjadi seorang bhikkhuni. Pada suatu hari, ia sedang membersihkan kakinya dengan air dari tempayan. Pada saat ia menuangkan air untuk pertama kalinya, air tersebut hanya mengalir pada jarak yang pendek kemudian meresap; kemudian ia menuangkan untuk kedua kalinya. Air tersebut mengalir sedikit lebih jauh. Tetapi air yang dituangkan untuk ketiga kalinya mengalir paling jauh. Dengan melihat aliran dan menghilangkan air yang dituangkan sebanyak tiga kali, ia mengerti dengan jelas tiga tahapan di dalam kehidupan makhluk hidup.

Sang Buddha melihat Patacara melalui kemampuan batin luar biasaNya dari Vihara Jetavana, mengirimkan seberkas sinar dan memperlihatkan diri sebagai seorang manusia. Sang Buddha kemudian berkata kepadanya, “Patacara kamu sekarang pada jalan yang benar, dan kamu telah tahu pandangan yang benar tentang kelompok kehidupan (khandha). Seseorang yang tidak mengerti corak tidak-kekal, tidak-memuaskan, dan tanpa-inti dari khandha adalah tidak bermanfaat, walaupun ia hidup selama seratus tahun.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 113 berikut:

“Yo ca vassasatam jive
apassam udayabbayam
ekaham jivitam seyyo
passato udayabbayam.”

Walaupun seseorang hidup seratus tahun,
tetapi tidak dapat melihat timbul tenggelamnya segala sesuatu yang berkondisi,
sesungguhnya lebih baik kehidupan sehari dari orang yang dapat melihat timbul tenggelamnya segala sesuatu yang berkondisi.

Patacara mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.
 

 patacara

Ditulis dalam Dhammapada | 2 Komentar »

Manusia Punya Kekuatan Untuk Mengembangkan Indra Sampai Tingkat Supersadar (Kajian Atas Indriyabhavana Sutta)

Ditulis oleh Bhikkhu Dhammaraja di/pada Maret 17, 2009

shiva

 

Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang tinggal di dekat Kajangala di hutan kecil Mukhelu 2. Pada waktu itu brahmana muda bernama Uttara, seorang siswa dari Parasariya 3 menghampiri Beliau; setelah dekat, ia saling bertukar salam dengan Sang Bhagava, dan setelah berbincang-bincang dengan akrab dan sopan ia duduk pada jarak yang sopan. Lalu, Sang Bhagava berbicara kepada pemuda brahmana Uttara, siswa dari Parasariya, ketika ia duduk pada jarak yang sopan: “Uttara, apakah Parasariya sang brahmana mengajarkan pengembangan alat-alat inderia kepada murid-muridnya?”

“Yang Mulia Gotama, brahmana Parasariya mengajarkan pengembangan alat-alat inderia kepada murid-muridnya.”

“Tapi Uttara, dengan cara apa Parasariya, sang brahmana mengajarkan pengembangan alat-alat inderia kepada murid-muridnya?”

“Mengenai hal ini, Yang Mulia Gotama, seseorang tidak boleh melihat bentuk-bentuk benda dengan mata, orang tidak boleh mendengar suara-suara dengan telinga. Dengan demikian, Yang Mulia Gotama, brahmana Parasariya mengajarkan pengembangan alat-alat inderia kepada murid-muridnya.”

“Kalau demikian Uttara, maka menurut apa yang dikatakan oleh brahmana Parasariya orang buta pasti berkembang alat inderianya, orang tuli pasti berkembang alat inderianya. Karena seorang buta, Uttara, tidak melihat bentuk-bentuk benda dengan matanya, demikian pula orang tuli tidak mendengar suara dengan telinganya.”

Setelah hal ini dikatakan, pemuda brahmana Uttara, murid Parasariya, duduk diam, malu, bahunya menunduk, wajahnya murung, merenung, tanpa bicara. Lalu Sang Bhagava, setelah mengetahui Uttara, murid Parasariya duduk diam, malu … merenung, tanpa bicara, menyapa bhikkhu Ananda sambil berkata: “Ananda, brahmana Parasariya mengajarkan murid-muridnya pengembangan alat-alat inderia dalam satu cara; tetapi dalam disiplin untuk seorang ariya pengembangan alat-alat inderia yang tak terbanding adalah sebaliknya.” 4

“Inilah saat yang tepat, Yang Mulia, inilah saat yang tepat, Yang Berbahagia, bagi Yang Mulia [299] untuk mengajarkan pengembangan alat-alat inderia yang tak terbandingkan (sebagaimana adanya) di dalam disiplin bagi seorang ariya. Bila para bhikkhu telah mendengar Sang Bhagava, mereka akan mengingatnya.”

“Kalau begitu, Ananda, dengar dan perhatikan dengan cermat dan Aku akan berbicara.”

“Baik, Yang Mulia,” jawab bhikkhu Ananda setuju. Lalu berkatalah Sang Bhagava:

“Dan Ananda, apakah pengembangan alat inderia yang tak terbandingkan dalam disiplin untuk seorang ariya? Mengenai hal ini, Ananda, bila seorang bhikkhu melihat suatu bentuk materi dengan matanya timbullah apa yang disukai, timbullah apa yang tidak disukai, timbullah apa yang disukai sekaligus tidak disukai. 5 Dengan demikian ia memahami: “Yang disukai ini timbul pada diriku, yang tidak disukai ini timbul, yang disukai sekaligus tidak disukai timbul, dan yang timbul ini adalah tidak menyenangkan. Tapi inilah yang sesungguhnya baik, yaitu ketenangan pikiran.” Maka, apakah yang timbul dalam dirinya itu disukai, tidak disukai atau sekaligus disukai dan tidak disukai, semuanya berhenti padadirinya, dan ketenangan pikiran tetap terjaga. Ananda, bagaikan seseorang yang memiliki penglihatan, yang telah membuka matanya harus menutupnya, atau yang telah menutup matanya harus membukanya. Walaupun demikian, Ananda, seperti kecepatan, seperti kenikmatan dimana segala yang timbul, apakah disukai, tidak disukai atau sekaligus disukai dan tidak disukai, semuanya berhenti pada dirinya, dan ketenangan terjaga. Dalam disiplin bagi seorang ariya, Ananda, ini dinamakan pengembangan alat inderia yang tak terbandingkan dalam kaitan dengan bentuk-bentuk materi yang disadari melalui mata.

Dan juga, Ananda, bila seorang bhikkhu mendengar suara dengan telinga timbullah apa yang disukai, timbullah apa yang tidak disukai, timbullah apa yang sekaligus disukai dan tidak disukai. Dengan demikian ia memahami: … dan ketenangan terjaga. Ananda, bagaikan seorang laki-laki kuat dapat mencengkeramkan jari-jarinya dengan mudah, demikianlah, Ananda begitulah kecepatan, begitulah kemudahan dengan segala sesuatu yang timbul, apakah hal itu disukai, tak disukai atau sekaligus disukai dan tidak disukai, (semuanya sama-sama) terhenti dalam dirinya, dan ketenangan pikiran terjaga. Dalam disiplin bagi seorang ariya, Ananda, hal ini dinamakan pengembangan alat inderia yang tak terbandingkan berkaitan dengan suara-suara yang disadari oleh telinga.

Dan juga, Ananda, bila seorang bhikkhu mencium bau-bauan dengan hidungnya timbullah apa yang disukai … dan ketenangan pikiran tetap terjaga. [300] Ananda, bagaikan tetes hujan jatuh pada bunga teratai yang miring dan tak bersisa, begitu pula, Ananda kecepatan … dengan hal-hal yang telah timbul … terhenti dalam dirinya, dan ketenangan pikiran tetap terjaga. Dalam disiplin bagi seorang ariya, Ananda, ini dinamakan pengembangan alat inderia yang tak terbanding berkenaan dengan bau-bauan yang dapat disadari oleh hidung.

Begitu pula, Ananda, bila seorang bhikkhu mengecap / mencicipi rasa dengan lidahnya timbullah apa yang disukai … dan ketenangan tetap terjaga. Ananda, bagaikan setetes lendir yang terkumpul di ujung lidahnya, orang yang kuat dapat dengan mudah meludahkannya ke luar, demikianlah Ananda, kecepatan … berkenaan dengan hal-hal yang telah timbul … terhenti dalam dirinya, dan ketenangan tetap terjaga. Dalam disiplin bagi seorang ariya, Ananda, hal ini disebut sebagai pengembangan alat inderia yang tak terbanding yang berkaitan dengan rasa yang dapat disadari melalui lidah.

Demikian juga Ananda, bila seorang bhikkhu merasakan sentuhan dengan tubuhnya, timbullah apa yang disukai … dan ketenangan pikiran tetap terjaga. Ananda, bagaikan seorang kuat yang dapat merentangkan tangannya yang menekuk atau dapat menekuk kembali tangannya yang terentang, begitulah Ananda, kecepatan … berkenaan dengan hal-hal yang telah timbul … terhenti dalam dirinya, dan ketenangan tetap terjaga. Dalam disiplin bagi seorang ariya, Ananda, hal ini dinamakan pengembangan alat inderia yang tak dapat dibandingkan berkenaan dengan sentuhan yang dapat disadari melalui tubuh.

Dan juga Ananda, bila seorang bhikkhu menyadari keadaan mental dengan pikirannya timbullah apa yang disukai … dan ketenangan pikiran tetap terjaga. Ananda, seperti seorang yang menjatuhkan dua atau tiga tetes air ke dalam tong besi yang panas membara setiap hari. Ananda, perlahan jatuhnya tetes air itu, namun tetes air itu cepat musnah dan habis. Demikianlah Ananda, kecepatan … berkenaan dengan hal-hal yang timbul … terhenti dalam dirinya, dan ketenangan pikiran tetap terjaga. Dalam disiplin bagi seorang ariya, Ananda, hal ini dinamakan pengembangan alat inderia yang tak dapat dibandingkan berkenaan dengan keadaan mental yang dapat disadari oleh pikiran.

Demikianlah Ananda, pengembangan alat inderia yang tak dapat dibandingkan dalam disiplin bagi seorang ariya.

Dan Ananda, apakah tujuan seorang siswa ? Mengenai hal ini Ananda, bila seorang bhikkhu melihat bentuk materi / benda dengan mata timbullah apa yang disukai, timbullah apa yang tidak disukai, timbullah apa yang sekaligus disukai dan tidak disukai. Karena telah timbul apa yang disukai, karena timbul apa yang tidak disukai, karena timbul apa yang sekaligus disukai dan tidak disukai, ia terganggu olehnya, malu karenanya, muak terhadapnya. [301] Bila ia mendengar suara dengan telinganya, membaui dengan hidungnya, mengecap rasa dengan lidahnya, merasakan sentuhan dengan tubuhnya, menyadari keadaan mental dengan pikirannya, timbullah apa yang disukai, timbullah apa yang tidak disukai, timbullah apa yang sekaligus disukai dan tak disukai. Karena timbul apa yang disukai, karena timbul apa yang tak disukai, karena timbul apa yang sekaligus disukai dan tidak disukai, ia terganggu olehnya, malu karenanya, muak kepadanya. Begitulah Ananda, tujuan seorang siswa.

Dan siapakah orang ariya yang alat inderianya berkembang, Ananda ? Dalam hal ini, Ananda, bila seorang bhikkhu melihat bentuk benda dengan matanya … mendengar suara dengan telinganya … membaui bau-bauan dengan hidungnya … mengecap rasa dengan lidahnya … merasakan sentuhan dengan tubuhnya … menyadari keadaan mental dengan pikirannya timbullah apa yang disukai, timbullah apa yang tidak disukai, timbullah apa yang sekaligus disukai dan tidak disukai. Jika ia berkeinginan demikian: ‘Semoga aku tetap tidak mencerap ketidakmurnian dalam ketidakmurnian,’ 7 ia tetap tidak mencerap ketidakmurnian. Jika ia berkeinginan: ‘Semoga aku tetap mencerap ketidakmurnian dalam kemurnian,’ ia lalu tetap mencerap ketidakmurnian. Jika ia berkeinginan: ‘Semoga aku tetap tidak mencerap ketidakmurnian dalam ketidakmurnian dan dalam kemurnian,’ ia tetap tidak mencerap ketidakmurnian. Jika ia berkeinginan: ‘Semoga aku tetap mencerap ketidakmurnian dalam kemurnian dan ketidakmurnian,’ ia tetap  mencerap ketidakmurnian. Jika ia berkeinginan: ‘Semoga aku, setelah menghindari ketidakmurnian dan kemurnian, [302] tetap berada dalam ketenangan pikiran, penuh perhatian dan benar-benar sadar,’ maka ia tetap berada dalam ketenangan, perhatian dan benar-benar sadar. Demikianlah Ananda, sang ariya yang alat inderianya berkembang.

Jadi Ananda, telah Kuajarkan pengembangan alat inderia yang tak dapat dibandingkan (sebagaimana adanya) dalam disiplin bagi seorang ariya, telah Kuajarkan tujuan seorang siswa, telah Kuajarkan tentang seorang ariya yang alat inderianya berkembang. Ananda, apapun yang seharusnya dilakukan dengan welas asih oleh seorang guru yang menghendaki kesejahteraan murid-muridnya dan mengasihi mereka, telah Kulakukan untukmu. Ananda, inilah akar-akar pohon, inilah tempat-tempat kosong / sunyi. Bermeditasilah Ananda, jangan malas, jangan menyesal nanti. Inilah petunjukKu kepadamu.”

Demikianlah sabda Sang Bhagava. Dengan gembira, bhikkhu Ananda bergembira dalam apa yang telah dikatakan oleh Sang Bhagava.

Ditulis dalam Majjhima Nikaya | 16 Komentar »

Jangan Mematut Diri Di Depan Cermin Dulu Sebelum Menjadi Buddha (Kajian Atas Culasaropama Sutta)

Ditulis oleh Bhikkhu Dhammaraja di/pada Maret 17, 2009

Pada suatu waktu Sang Bhagava sedang berada di Jetavana, taman milik Anathapindika, Savatthi.

Kemudian Brahmana Pingalakoccha pergi menemui Sang Bhagava, saling memberi salam, setelah saling menyapa dengan sopan, ia duduk. Lalu ia berkata kepada Sang Bhagava: “Samana Gotama, ada petapa-petapa dan para brahmana, masing-masing dengan sanghanya, dengan kelompoknya, memimpin, sebuah kelompok, masing-masing seorang filosof yang terkenal dan dipandang oleh banyak orang sebagai orang suci -yang saya maksudkan adalah Purana Kassapa, Makhali Gosala, Ajita Kesakambali, Pakuddha Kaccayana, Sanjaya Belatthiputta, dan Nigantha Nataputta -mereka semua mempunyai pengetahuan seperti yang mereka nyatakan, atau tak satupun dari mereka yang mempunyai pengetahuan, di antara mereka ada yang memiliki pengetahuan (abhinna) atau ada yang tidak memiliki pengetahuan.”

“Cukup, brahmana, apakah mereka semua mempunyai pengetahuan seperti yang mereka minta, tak satupun dari mereka atau beberapa dari mereka tidak beberapa dari mereka, biarkanlah itu, saya akan mengajarkan kamu dhamma, brahmana. Dengarkan dan perhatikan dengan baik apa yang saya katakan.”

“Baiklah, Bhante,” jawab Pingalakoccha.

Selanjutnya Sang Bhagava berkata:

“Misalnya, seseorang memerlukan bagian tengah kayu yang keras, mencari bagian tengah kayu yang keras, berkelana dalam pencarian bagian tengah kayu yang keras, lalu melihat sebuah pohon besar yang mempunyai bagian tengah kayu yang keras, melewati bagian tengah kayu yang keras dan memotong bagian yang basah, lalu membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah bagian tengah kayu yang keras; kemudian seorang dengan penglihatan yang baik, melihatnya untuk memperhatikan perbuatannya dan berkata: “Apa pun yang akan dilakukan oleh orang ini dengan bagian tengah kayu yang keras, maksudnya tidak akan terpenuhi.”"

“Misalnya, seseorang memerlukan bagian tengah kayu yang keras, mencari bagian tengah kayu yang keras, berkelana dalam pencarian bagian tengah kayu yang keras lalu melihat sebuah pohon besar yang mempunyai bagian tengah kayu yang keras, ia memotong bagian tengah kayu yang keras, lalu membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah bagian tengah kayu yang keras; kemudian seorang dengan penglihatan yang baik, melihatnya untuk memperhatikan perbuatannya dan berkata: “Apa pun yang akan dilakukan oleh orang ini dengan bagian tengah kayu yang keras, maksudnya akan terpenuhi.”"

“Brahmana, demikian pula, ini beberapa orang karena keyakinan, meninggalkan kehidupan duniawi menjadi tak berumah-tangga, berpikir: “Saya adalah korban dari kelahiran, lahir dan mati, dari kesedihan-kesedihan dan dukacita, kesakitan, ratapan, dan keputusasaan. Saya adalah korban penderitaan, mangsa dari penderitaan. Secara pasti akhir dari seluruh penderitaan yang besar ini dapat diketahui.” Sesudah ia melakukan, ia memperoleh hasil yang besar, kehormatan dan kemashyuran. Dia senang dengan itu dan keinginannya yang terpenuhi. Tapi ia memuji diri sendiri dan menghina orang lain yaitu: “Saya mempunyai hasil, saya dikenal, tetapi bhikkhu-bhikkhu ini tidak diketahui, tanpa catatan.”

“Dengan begitu ia membangkitkan ketidakadaan keinginan untuk melakukan tindakan,ia tidak melakukan usaha, untuk merealisasi dhamma lain yang lebih tinggi daripada hasil yang diperolehnya, kehormatan dan kemashyuran dan yang lebih tinggi daripada itu.”

“Saya mengatakan orang ini seperti seseorang memerlukan bagian tengah kayu yang keras, mencari bagian tengah kayu yang keras, berkelana dalam pencarian bagian tengah kayu yang keras, lalu melihat sebuah pohon besar yang mempunyai bagian tengah kayu yang keras, melewati bagian tengah kayu yang keras dan bagian yang basah, memotong kulit dalamnya dan luar, lalu membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah bagian tengah kayu yang keras, maka apa pun yang akan dilakukan oleh orang ini dengan bagian tengah kayu yang keras, maksudnya tidak akan terpenuhi.”"

“Ada beberapa orang yang berdasarkan pada keyakinan meninggalkan pemuasan duniawi menjadi tanpa berumah-tangga, berpikir: “Saya adalah korban dari kelahiran, lahir dan kematian, dan penderitaan dan ratapan, kesakitan, dukacita dan keputusasaan. Saya adalah seorang korban penderitaan, sasaran dari penderitaan. Secara pasti akhir dari seluruh penderitaan yang besar ini dapat diketahui.” Setelah ia telah melakukannya, ia memperoleh hasil yang besar, kehormatan dan kemashyuran. Ia tidak senang dengan ini dan keinginannya dipenuhi. Ia tidak memuji dirinya sendiri dan menghina orang lain. Ia menimbulkan keinginan untuk melakukan dan membuat usaha-usaha untuk menyadari dhamma yang lain yang lebih tinggi daripada basil itu, kehormatan dan kemashyuran dan lebih unggul daripada itu; ia tidak bergantung dan menurun. Ia mencapai kebajikan yang sempurna. Ia senang dengan kebajikan yang sempurna dan keinginannya terpenuhi.”

“Tapi lagi-lagi ia memuji diri sendiri dan menghina orang lain: “Saya seorang yang saleh, mempunyai sifat yang baik, tetapi bhikkhu-bhikkhu yang lain ini tidak saleh, dan mempunyai kelakuan yang jahat.” Maka ia membangkitkan ketidakinginan untuk melakukan tindakan, ia tidak berusaha untuk merealisasi dhamma-dhamma lain yang tinggi daripada konsentrasi yang sempurna, membuat bersifat masa bodoh.

“Saya berkata bahwa orang ini seperti seorang memerlukan bagian tengah kayu yang keras, mencari bagian tengah kayu yang keras, berkelana dalam pencarian bagian tengah kayu yang keras, lalu melihat sebuah pohon besar yang mempunyai bagian tengah kayu yang keras, melewati bagian tengah kayu yang keras dan bagian yang basah, memotong kulit dalamnya, lalu membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah bagian tengah kayu yang keras; maka apa pun yang akan dilakukan oleh orang ini dengan bagian tengah kayu yang keras, maksudnya tidak akan terpenuhi.”"

“Di sini beberapa orang karena keyakinan, meninggalkan kehidupan duniawi menjadi tak berumahtangga, berpikir: “Saya korban dari kelahiran, lahir dan mati, kesedihan dan ratapan, kesakitan, duka cita dan keputusasaan. Saya adalah seorang korban penderitaan, mangsa dari penderitaan. Secara pasti akhir dari seluruh penderitaan yang besar itu dapat diketahui.” Setelah ia telah melakukannya, ia mendapatkan hasil yang besar, kehormatan dan kemashyuran. Ia tidak senang dengan itu dan keinginannya tidak terpenuhi. Ia tidak memuji dirinya sendiri dan menghina orang lain. Ia mempunyai keinginan untuk bertindak dan membuat usaha untuk menyadari dhamma yang lain yang lebih tinggi dan unggul dari itu.”

“Ia tidak bergantung dan tidak merosot. Ia mencapai kebajikan yang sempurna. Ia senang dengan itu, tetapi keinginannya tidak terpenuhi. Ia tidak memuji diri sendiri dan menghina orang lain. Ia ingin bertindak, dan membuat usaha, untuk menyadari dhamma yang lain yang lebih tinggi dari kebajikan yang sempurna. Ia tidak bergantung dan merosot. Ia mencapai konsentrasi yang sempurna. Ia senang dan keinginannya terpenuhi. Kembali ia memuji dirinya sendiri dan menghina orang lain: “Saya berkonsentrasi, pikiran saya terpusat, tetapi bhikkhu-bhikkhu ini tidak terkonsentrasi dan pikiran mereka kacau.” Maka ia membangkitkan ketidakinginan untuk berbuat, ia tidak berusaha untuk merealisasikan dhamma-dhamma yang lebih tinggi daripada konsentrasi sempurna, ia bersikap masah bodoh.”

“Saya berkata orang ini seperti orang memerlukan bagian tengah kayu yang keras, mencari bagian tengah kayu yang keras, berkelana dalam pencarian bagian tengah kayu yang keras, lalu melihat sebuah pohon besar yang mempunyai bagian tengah kayu yang keras, melewati bagian tengah kayu yang keras dan bagian yang basah, memotong kulit dalamnya, lalu membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah bagian tengah kayu yang keras; maka apa pun yang akan dilakukan oleh orang ini dengan bagian tengah kayu yang keras, maksudnya tidak akan terpenuhi.”

“Di sini ada beberapa orang yang berdasarkan pada keyakinan, meninggalkan kehidupan duniawi menjadi tak berumah-tangga, berpikir: “Saya adalah korban dari kelahiran, lahir dan mati, dari kesedihan dan ratapan, kesakitan duka cita dan keputusasaan. Saya adalah korban dari penderitaan, mangsa dari penderitaan. Secara pasti akhir dari seluruh penderitaan ini dapat diketahui.” Setelah ia telah melakukannya, ia memperoleh hasil yang besar, kehormatan dan kemashyuran. Ia tidak senang dengan ini dan keinginannya tidak dipenuhi. Dengan catatan, ia tidak membanggakan dirinya sendiri dan menghina yang lain. Ia mempunyai keinginan untuk bertindak, dan ia membuat usaha, untuk menyadari dhamma yang lebih tinggi daripada hasil, kehormatan dan kemashyuran dan lebih unggul daripada itu.”

“Ia tidak bergantung dan mengalami kemerosotan. Ia mencapai kebajikan yang sempurna. Ia senang dengan pencapaiannya itu, namun keinginannya belum terpenuhi. Berdasarkan hal itu ia tidak membanggakan dirinya sendiri dan menghina orang lain. Ia membangkitkan keinginan berbuat, berusaha untuk merealisasi dhamma-dhamma yang lebih tinggi dari kebajikan sempurna. Ia tidak bersikap masa bodoh. Ia mencapai konsentrasi sempurna. Ia sedang senang dengan itu tetapi keinginannya belum terpenuhi. Berdasarkan hal itu, ia tidak memuji dirinya sendiri dan menghina orang lain. Ia membangkitkan keinginan untuk berbuat, ia berusaha untuk merealisasikan dhamma-dhamma yang lebih tinggi daripada konsentrasi sempurna. Ia tidak masa bodoh. Ia mencapai pengetahuan dan penglihatan (nanadassana). Ia senang dengan hal itu dan keinginannya terpenuhi. Kembali ia memuji dirinya sendiri dan menghina orang lain: “Saya hidup mengetahui dan melihat, tetapi bhikkhu-bhikkhu ini hidup tanpa mengetahui dan melihat.”

Maka ia membangkitkan ketidakinginan untuk berbuat, ia tidak berusaha untuk merealisasi dhamma-dhamma lain yang lebih tinggi daripada pengetahuan dan penglihatan. Ia bersikap masa bodoh.”

“Saya berkata bahwa orang ini seperti seorang yang memerlukan bagian tengah kayu yang keras, mencari bagian tengah kayu yang keras, berkelana mencari bagian tengah kayu yang keras melihat sebuah pohon yang mempunyai bagian tengah kayu yang keras, dan melewati bagian tengah kayu yang keras, ia memotong bagian kayu yang basah dan membawanya, berpikir bahwa itu adalah bagian tengah kayu yang keras; maka apa pun yang ia lakukan dengan bagian tengah kayu yang keras, maksudnya tidak akan terpenuhi.”

“Di sini ada beberapa orang yang berdasarkan keyakinan, meninggalkan kehidupan duniawi menjadi hidup tanpa berumah-tangga …. Ia mendapat hasil yang besar, kehormatan dan pujian. Ia tidak senang dengan itu, keinginannya tidak terpenuhi …. Ia mencapai kebajikan sempurna. Ia senang dengan itu, namun keinginannya belum terpenuhi …. Ia mencapai pengetahuan dan penglihatan. Ia senang dengan itu tetapi keinginannya belum terpenuhi. Berdasarkan hal itu ia tidak memuji dirinya sendiri dan menghina orang lain. Ia membangkitkan keinginan untuk berbuat, ia berusaha untuk merealisasi dhamma-dhamma lain yang lebih tinggi daripada pengetahuan dan penglihatan dan melebihi itu. Ia tidak masa bodoh. Tetapi apakah dhamma-dhamma yang lebih tinggi daripada pengetahuan dan penglihatan dan melebihi itu?”

“Meditasi lv 1 (Pathama Jhana):  Menjauhi nafsu, jauh dari dhamma-dhamma yang tak bermanfaat, ia mencapai vitakka dan vicara, dengan kegiuran serta kebahagiaan yang dihasilkan oleh ketenangan.
Meditasi lv 2 (Dutiya Jhana):  Dengan melenyapkan vitakka dan vicara, ia mencapai dan berada dalam keyakinan diri, pikiran terpusat, dan kegiuran yang dihasikan oleh pemusatan pikiran.
Meditasi lv 3 (Tatiya Jhana):  Selanjutnya, dengan melenyapkan kegiuran, ia seimbang, pikiran terpusat dan sadar, dengan kebahagiaan tubuh, ia mencapai keadaan yang menyenangkan karena memiliki keseimbangan dan pikiran waspada sekali.”
Meditasi lv 4 (Catuttha Jhana):  Kemudian, dengan menghilangkan kebahagiaan dan ketidaksenangan dari tubuh (sukha-dukkha) dan setelah terlebih dahulu melenyapkan kegiuran dan kesedihan, ia mencapai dan berada dalam  ‘bukan menyakitkan dan bukan kebahagiaan’, kesadaran yang suci karena keseimbangan (upekha).
Meditasi lv 5 (akasanancayatana): Setelah dengan sempurna melampaui pencerapan jasmani (rupasanna) dan lenyapnya pencerapan ketidaksenangan (patighasanna, tanpa memperhatikan) pencerapan perbedaan (nanattasanna), menyadari “ruang tanpa batas”, ia mencapai dan berada dalam ‘keadaan ruang tanpa batas’.
Meditasi lv 6 (vinnanancayatana): Setelah dengan sempurna melampaui ‘keadaan ruang tanpa batas’, menyadari ‘kesadaran tanpa batas’, ia mencapai dan berada dalam ‘keadaan kesadaran tanpa batas’.
Meditasi lv 7 (akincannayatana): Setelah dengan sempurna melampaui ‘keadaan kesadaran tanpa batas’, menyadari ‘kekosongan’, ia mencapai dan berada dalam ‘keadaan kekosongan’.
Meditasi lv 8 (n’evasanna nasannayatana): Setelah dengan sempurna melampaui ‘keadaan kekosongan’, ia mencapai dan berada dalam ‘keadaan bukan pencerapan atau pun tidak bukan pencerapan’.
Meditasi final lv (sannavedayitanirodha): Setelah dengan sempurna melampaui ‘keadaan bukan pencerapan ataupun tidak bukan pencerapan’, ia mencapai dan berada dalam ‘lenyapnya pencerapan dan perasaan’. Semua kotoran batinnya (asava) lenyap oleh pengetahuan dan penglihatan (nanadassana). “

“Saya berkata orang ini seperti seorang memerlukan bagian tengah kayu yang keras, mencari bagian tengah kayu yang keras, berkelana dalam pencarian bagian tengah kayu yang keras, lalu melihat sebuah pohon besar yang_mempunyai bagian tengah kayu yang keras, ia memotong bagian tengah kayu yang keras, lalu membawanya dengan berpikir bahwa itu adalah bagian tengah kayu yang keras; maka apa pun yang akan dilakukannya pada bagian tengah kayu yang keras itu, maksudnya akan terpenuhi.”
“Brahmana, hidup ini tidak mempunyai keuntungan, kehormatan dan kemashyuran tidak ada gunanya, tidak ada kebajikan yang sempurna, atau konsentrasi yang sempurna, atau pengetahuan dan khayalan. Tetapi tidak dapat disangkal pembebasan pikiran merupakan tujuan dari kehidupan suci. Inilah ‘bagian tengah kayu yang keras’ dan akhirnya.”

Ketika ini dikatakan Brahmana Pingalakoccha berkata kepada Sang Bhagava: “Menakjubkan, Samana Gotama! Menakjubkan ….! Mulai hari ini semoga Samana Gotama menerima saya sebagai upasaka yang telah berlindung kepada-Nya selama hidup.”

meditasi

Ditulis dalam Majjhima Nikaya | 1 Komentar »